Nah, dari sisi energi, angkutan BBM via kereta punya nilai strategis sendiri. Pola pengiriman yang terjadwal dan terkontrol ini mendukung ketahanan pasokan nasional. Bayangkan, volume besar bisa diangkut dengan efisiensi yang stabil. Ini membantu menjaga pasokan energi untuk banyak sektor, dari transportasi hingga industri dan rumah tangga.
Ada lagi dampak positifnya. Kinerja angkutan barang KAI ini ternyata membantu mengurangi kemacetan di jalan raya. Dengan beralihnya sebagian distribusi ke rel, beban lalu lintas darat bisa ditekan. Efeknya berantai: keselamatan transportasi meningkat dan biaya logistik secara keseluruhan bisa lebih efisien.
KAI sendiri tak berpuas diri. Anne menyebut perusahaan terus berupaya memperkuat layanan. Caranya dengan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada, serta menjalin kolaborasi dengan mitra logistik. Pengembangan terminal, peningkatan keandalan rangkaian kereta, dan integrasi antar moda transportasi adalah beberapa strategi yang dijalankan untuk memastikan kinerja ini berkelanjutan.
“Ke depan, KAI berkomitmen melanjutkan penguatan angkutan barang sebagai salah satu pilar bisnis perusahaan. Dengan pendekatan berbasis data dan kebutuhan pasar, KAI menargetkan layanan logistik yang semakin relevan, efisien, dan berkontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi serta kelancaran distribusi barang di seluruh wilayah Indonesia,”
tutup Anne.
Pencapaian di Januari itu mungkin baru langkah awal. Tapi jelas, ini memberi gambaran tentang bagaimana kereta api perlahan-lahan merebut kembali perannya di jantung logistik negeri.
Artikel Terkait
Perang dengan Iran Borong Rp5,4 Triliun Anggaran Israel per Hari
Sopir Bus Relakan Mudik Demi Antar Penumpang Pulang Kampung
Rest Area KM 207A Cirebon Sepi Usai Arus Mudik Surut
Transaksi Jakarta Tembus Rp21 Triliun Selama Ramadan, Tertinggi di Jawa