Di sisi lain, Teheran sebenarnya tidak menutup pintu dialog. Mereka bilang siap bernegosiasi. Tapi syaratnya mesti jelas: dasarannya kesetaraan dan saling menghormati. Bukan dengan cara menakut-nakuti atau mengintimidasi.
“Iran siap untuk berdialog berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama. Namun jika didesak dengan ancaman, Iran akan membela diri dan merespons dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya,”
Pernyataan tegas itu sekaligus jadi jawaban atas ancaman Trump yang dilontarkan pada Rabu lalu. Presiden AS itu mengklaim “armada besar” militernya sedang bergerak ke arah Iran. Dia mendesak Teheran buru-buru kembali ke meja perundingan.
Bahkan Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan yang jauh lebih dahsyat. Tapi bagi Iran, gaya bahasa seperti itu justru kontraproduktif. Pendekatan militer, dalam pandangan mereka, cuma akan memperkeruh keadaan. Bukan mustahil situasi malah merembet dan menyeret seluruh kawasan ke dalam konflik yang lebih brutal dan luas.
Jadi, pesannya sederhana: AS sebaiknya berpikir dua kali. Sejarah, kata Iran, sudah memberikan pelajaran yang cukup mahal.
Artikel Terkait
Perang dengan Iran Borong Rp5,4 Triliun Anggaran Israel per Hari
Sopir Bus Relakan Mudik Demi Antar Penumpang Pulang Kampung
Rest Area KM 207A Cirebon Sepi Usai Arus Mudik Surut
Transaksi Jakarta Tembus Rp21 Triliun Selama Ramadan, Tertinggi di Jawa