JAKARTA – Kekhawatiran warga soal bau dan pencemaran dari fasilitas pengolahan sampah RDF Plant Rorotan mendapat tanggapan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI. Menurut DLH, operasional di lokasi itu tidak berjalan penuh, melainkan bertahap. Pengawasan ketat dilakukan, mulai dari truk pengangkut sampah sampai proses pengolahannya di dalam pabrik.
Menurut sejumlah saksi, ada keluhan dari masyarakat sekitar. Namun begitu, pihak DLH berusaha menenangkan dengan menjelaskan skala operasi yang masih terbatas.
Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyebut RDF Rorotan saat ini hanya beroperasi lima hari seminggu dengan dua shift. Sabtu dan Minggu dipakai untuk bersih-bersih dan penataan area.
“Kami memahami kekhawatiran warga. Karena itu, operasional RDF Rorotan tidak langsung dijalankan pada kapasitas maksimal 2.500 ton per hari. Kami mulai dari 200 ton per hari, kemudian naik menjadi 400 ton, 600 ton, dan secara bertahap menuju kapasitas 1.000 ton per hari sesuai arahan Bapak Gubernur,” jelas Asep, Senin (2/2/2026).
Fasilitas ini menerima kiriman sampah dari enam kecamatan di Jakarta Utara dan lima kecamatan di Jakarta Timur. Setiap kali ada rencana penambahan kapasitas, DLH mengklaim sistem pengendalian emisi dan bau diperiksa ulang agar benar-benar optimal. Mereka juga fokus pada masalah pengangkutan, yang kerap jadi sumber keluhan.
Di sisi lain, Asep menegaskan soal armada angkut. “Tidak ada lagi kendaraan terbuka yang masuk ke RDF Plant Rorotan. Truk compactor tertutup ini dirancang untuk mencegah bau dan ceceran air lindi di sepanjang jalur pengangkutan,” tegasnya.
Untuk memastikan aturan itu dipatuhi, DLH memasang pos pantau di dua titik masuk utama dari arah Jakarta Utara dan Timur. Petugas di sana memeriksa kondisi truk, mengecek bak tertutup, dan memastikan tidak ada kebocoran lindi.
“Kendaraan yang tidak memenuhi SOP langsung kami hentikan dan kami minta kembali ke lokasi asal. Selama hampir empat pekan terakhir, tidak ada keluhan masyarakat terkait ceceran air lindi di sepanjang rute menuju RDF Plant Rorotan,” tutur Asep.
Cuaca ekstrem belakangan ini, dengan hujan deras yang mengguyur Jakarta, rupanya jadi perhatian khusus. DLH mengaku melakukan penyesuaian teknis di lapangan sebagai langkah mitigasi. Prinsip kehati-hatian, kata mereka, dipegang teguh.
“Semua proses kami kawal ketat agar pengelolaan sampah berjalan aman, terkendali, dan tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat,” imbuhnya.
Pada akhirnya, penguatan teknologi dan pengendalian lingkungan ini disebut sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah yang modern. Asep berharap fasilitas seperti ini bisa mencegah Jakarta mengalami krisis sampah seperti yang terjadi di beberapa daerah lain.
Artikel Terkait
Pengacara Yaqut Cholil Qoumas Bantah Keras Klaim KPK soal Penyitaan Uang 1 Juta Dolar AS
KAI Bangun Tugu Peringatan di Stasiun Bekasi Timur untuk Hormati 16 Korban Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL
Kemensos Berhentikan 49 Pendamping PKH Sepanjang 2025 Akibat Langgar Aturan Penyaluran Bansos
Mensos Gus Ipul Tegaskan Tak Akan Intervensi Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Senilai Rp27 Miliar