WHO: Tiga Penumpang Kapal Pesiar Tewas Akibat Hantavirus, Tingkat Kematian Capai 40 Persen

- Selasa, 05 Mei 2026 | 21:15 WIB
WHO: Tiga Penumpang Kapal Pesiar Tewas Akibat Hantavirus, Tingkat Kematian Capai 40 Persen

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengingatkan dunia akan bahaya hantavirus setelah menemukan tiga penumpang kapal pesiar yang tewas akibat infeksi virus tersebut pada Senin, 3 Mei 2026. Virus yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus, ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi dan tidak boleh dianggap remeh.

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa hantavirus merupakan ancaman serius di tingkat klinis. Tingkat fatalitas atau kematian akibat infeksi ini mencapai 40 persen, yang berarti empat dari sepuluh pasien yang terinfeksi berisiko meninggal dunia.

"Nah, apakah hantavirus ancaman serius? Secara klinis ya, karena kematiannya atau fatalitasnya bisa sampai 40 persen," ujar Dicky dalam keterangannya, Selasa, 5 Mei 2026.

Ia menambahkan, dari segi onset atau waktu munculnya gejala penyakit, hantavirus juga relatif cepat. Meskipun demikian, virus ini tidak memiliki potensi menjadi pandemi seperti Covid-19 atau influenza karena penularannya terbatas dari hewan ke manusia.

"Sehingga meskipun memiliki dampak yang tinggi dalam konteks fatalitas, mobilitas penyebaran penyakit ini sangat rendah atau kecil," ucapnya.

Sementara itu, di Indonesia sendiri terdapat sejumlah penyakit zoonosis yang perlu menjadi perhatian serius. Penyakit-penyakit tersebut memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat, termasuk risiko kematian yang tinggi.

Salah satunya adalah rabies, yang dikenal juga sebagai penyakit anjing gila. Infeksi virus pada otak dan sistem saraf ini tergolong sangat berbahaya karena berpotensi besar menyebabkan kematian. Virus rabies, yang berbentuk seperti peluru dan bersifat neurotropis, bersarang pada air liur hewan yang telah terinfeksi. Hewan yang terinfeksi dapat menyebarkan virus dengan menggigit hewan lain atau manusia. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, setiap tahun rabies menyebabkan sekitar 59.000 kematian.

Flu burung, atau avian influenza, juga menjadi ancaman tersendiri. Infeksi virus ini umumnya ditemukan pada unggas, namun dapat bermutasi dan menyebar ke manusia. Penularan biasanya terjadi akibat kontak dengan burung yang terinfeksi atau proses memasak unggas yang kurang matang. Meskipun penyakit ini tidak dapat ditularkan antarmanusia, para ahli mengkhawatirkan kemungkinan mutasi yang memungkinkan penyebaran lebih mudah. Tercatat sejak tahun 2003, Indonesia merupakan negara dengan jumlah korban terbanyak akibat wabah flu burung. Dalam kasus penularan terhadap manusia di Indonesia, hampir 80 persen berakhir dengan kematian.

Leptospirosis juga menjadi penyakit yang perlu diwaspadai, terutama saat musim banjir. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira Interrogans ini menyebar melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi. Hewan penular leptospirosis paling banyak di Indonesia saat terjadi banjir adalah tikus. Hewan pengerat ini turut menyelamatkan diri saat banjir tiba, namun meninggalkan kotoran dan air kencing yang kemudian bercampur dengan air banjir. Gejala yang dirasakan akan lebih parah jika bakteri menginfeksi organ tertentu seperti hati, ginjal, paru-paru, jantung, dan otak. Penyakit terparah yang ditimbulkan adalah Weil, yaitu jenis infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan organ hingga berujung kematian.

Di sisi lain, brucellosis merupakan penyakit yang dapat menginfeksi manusia dan hewan, disebabkan oleh bakteri Brucella. Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia dengan 500.000 kasus. Infeksi pada hewan umumnya menyerang kambing, domba, rusa, babi, sapi, anjing, dan unta. Pada manusia, brucellosis terjadi dari kontak langsung dengan hewan atau mengonsumsi produk hewani yang terkontaminasi. Bakteri Brucella juga dapat menular melalui udara dan kontak dengan luka terbuka. Brucellosis pada manusia umumnya endemik di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Antraks juga menjadi ancaman yang tidak kalah serius. Bakteri Bacillus anthracis penyebab penyakit ini dapat bertahan berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan tahan terhadap kondisi panas, dingin, kekeringan, dan bahan kimia anti kuman. Hewan yang bisa terkena antraks antara lain sapi, kambing, domba, kerbau, dan babi. Pada manusia, gejala yang dialami meliputi benjolan melepuh berwarna biru gelap, reaksi peradangan dari luka, sakit perut, mual, muntah, diare, demam, nyeri otot dan dada, serta dapat terjadi kematian dalam waktu 24 jam.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar