BI Umumkan Tujuh Langkah Stabilisasi Rupiah Usai Tembus Rp17.425 per Dolar AS

- Selasa, 05 Mei 2026 | 22:30 WIB
BI Umumkan Tujuh Langkah Stabilisasi Rupiah Usai Tembus Rp17.425 per Dolar AS

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengumumkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.425 per dolar Amerika Serikat, setelah mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan tersebut disampaikan Perry usai mengikuti rapat terbatas Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama presiden di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (5/5). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai yang seharusnya atau undervalue jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Perry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada triwulan pertama tahun ini menjadi penopang utama bagi penguatan rupiah ke depan. Inflasi yang tetap terkendali, pertumbuhan kredit yang tinggi, serta cadangan devisa yang memadai turut menjadi faktor pendukung stabilitas mata uang nasional.

“Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” ujarnya dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan Prabowo.

Meski demikian, tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini dipicu oleh faktor global, seperti tingginya harga minyak, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, serta penguatan dolar AS. Kondisi ini mendorong arus keluar modal dari negara berkembang. Selain itu, faktor musiman pada April hingga Juni turut meningkatkan permintaan dolar, terutama untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan haji.

Dalam upaya mengatasi pelemahan tersebut, Bank Indonesia menyiapkan tujuh langkah stabilisasi. Pertama, intervensi valuta asing di pasar domestik dan luar negeri. Perry mengatakan pihaknya akan melakukan intervensi melalui transaksi spot dan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.

“Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah, baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry.

Kedua, BI mendorong peningkatan aliran modal masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah ini diharapkan dapat menutup arus keluar dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.

Ketiga, BI melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder. Perry mengungkapkan, realisasi pembelian SBN hingga tahun ini telah mencapai Rp123,1 triliun. “Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date Rp123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi, termasuk dengan Pak Menteri Keuangan, untuk bisa melakukan buyback,” ujarnya.

Keempat, BI bersama Kementerian Keuangan akan menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Perry menilai hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1 persen.

Kelima, BI memperketat pembatasan pembelian dolar AS. Batas pembelian yang sebelumnya US$100 ribu per orang per bulan akan kembali dipangkas menjadi US$25 ribu. “Pembelian dolar sampai dengan atau di atas US$25 ribu itu harus pakai underlying. Ya itu yang akan kami perkuat,” kata Perry. Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata uang Yuan dalam transaksi domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Keenam, BI memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan memperbolehkan bank domestik berpartisipasi dalam transaksi tersebut untuk meningkatkan suplai valas. “Kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih banyak, sehingga itu akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah,” jelas Perry.

Ketujuh, BI meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan. “Bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi, kami kirim pengawas ke OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” ujar Perry.

Dalam konferensi pers tersebut, turut hadir Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Frederica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu, serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Perry optimistis, dengan kombinasi fundamental domestik yang kuat dan langkah-langkah stabilisasi yang terukur, rupiah ke depan akan stabil dan cenderung menguat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar