Lalu ada Komitmen. Di sini, Perry menegaskan kembali peran BI sebagai jangkar stabilitas. Tapi komitmennya bukan cuma soal mengendalikan inflasi atau suku bunga. Ia menekankan bahwa BI akan memainkan seluruh perangkat kebijakannya, dari moneter hingga program ekonomi kerakyatan, untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
"BI komitmen will do our best merumuskan bauran kebijakan jaga stabilitas dan dorong ekonomi berkelanjutan melalui bauran di moneter, makroprudensial, ekonomi kerakyatan, dan berbagai hal di moneter,"
kata Perry.
Pilar terakhir adalah Sinergi. Perry menyoroti satu hal yang menurutnya kini jauh lebih solid: kolaborasi antara otoritas moneter dan fiskal. Koordinasi yang erat ini, klaimnya, sangat krusial untuk memastikan kebijakan pemerintah berjalan selaras dengan stabilitas pasar keuangan.
"Kami terus membangun dan semakin erat antara moneter dan fiskal. Sinergi kebijakan BI dan Fiskal yang erat,"
tuturnya.
Pada akhirnya, melalui laporan ini, BI ingin mengajak semua pihak dari akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat luas untuk terlibat. Tujuannya jelas: menjaga momentum pertumbuhan nasional ini tetap hidup, meskipun tantangan global di luar sana masih terus berubah dan tak bisa ditebak.
Artikel Terkait
Penjualan Tiket My Chemical Romance di Jakarta Mendadak Ditunda, Promotor Minta Maaf
Geliat Ekspor Mobil: Jepang Masih Kuasai Pasar, China Masih Berjuang
Restorative Justice Akhiri Kisah Hogi, dari Pembelaan Istri ke Dua Nyawa Melayang
ATSI Buka Suara: Data Wajah Pelanggan Tak Disimpan Operator