Modal minim. Itulah tantangan berat yang masih menghadang perbankan syariah di tanah air, menurut para pelaku industri. Daya saing mereka, mau tak mau, terpengaruh oleh kondisi ini.
Herbudhi S. Tomo, Executive Director Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), mengungkapkan fakta yang cukup menohok. Mayoritas bank syariah kita masih berkutat di kelas kecil hingga menengah jika dilihat dari sisi permodalan. Bandingkan dengan raksasa-raksasa perbankan konvensional yang punya kantong lebih tebal dan jaringan luas. Jelas, ruang untuk berekspansi jadi lebih sempit.
“Struktur permodalan bank syariah saat ini masih didominasi KBMI 1 dan KBMI 2. Kondisi ini membuat kemampuan ekspansi pembiayaan dan pengembangan produk menjadi terbatas,” ujar Herbudhi di Philip Kotler Theater Class, Jakarta, Selasa lalu.
Dia melanjutkan, ketimpangan skala ini bikin persaingan terasa tak seimbang. Bagaimana mungkin bank dengan modal pas-pasan bisa mengejar lini bisnis baru yang butuh suntikan dana besar? Rasanya sulit.
“Untuk masuk ke bisnis-bisnis baru yang membutuhkan modal besar, bank syariah harus memiliki struktur permodalan yang lebih kuat. Tanpa itu, peluang pertumbuhan akan sulit dimanfaatkan secara optimal,” tegasnya.
Artikel Terkait
Wajah Jadi Kunci: Registrasi SIM Bakal Pakai Biometrik Mulai 2026
Wajah Wajib Dipindai, Kemenkominfo Resmi Berlakukan Validasi Biometrik untuk Kartu Perdana Baru
KPK Cetak Rekor: Rp1.531 Triliun Aset Negara Kembali Sepanjang 2025
KPK Naikkan Batas Hadiah Nikah dan Revisi Aturan Gratifikasi