Namun begitu, KSSK tidak menutup mata pada ancaman dari luar. Pertumbuhan ekonomi dunia di tahun yang sama masih akan terpengaruh kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang berlarut-larut. Gangguan pada rantai pasok global juga masih jadi momok.
Kondisi pasar keuangan global sendiri memang lagi tidak menentu. Ruang bagi The Fed untuk memotong suku bunga kian kecil, sementara imbal hasil surat utang AS atau US Treasury tetap tinggi. Situasi ini bikin banyak investor was-was.
Belum lagi ketegangan perang dagang dan eskalasi konflik geopolitik di beberapa wilayah. Semua faktor itu berkontribusi pada meningkatnya ketidakpastian di pasar uang dunia.
Jadi, proyeksi 5,4 persen itu bukan tanpa tantangan. Tapi setidaknya, ada keyakinan bahwa mesin ekonomi domestik punya tenaga yang cukup untuk terus melaju, meski jalan di depan berliku.
Artikel Terkait
Media Italia Soroti Panggilan Audero dan Idzes ke Timnas Indonesia
Antrean Truk Logistik dan Pemudik Mulai Padati Pelabuhan Ciwandan Jelang Lebaran
Bali United Akui Inkonsistensi Usai Dibantai Persis Solo
Telkom dan Kemenkominfo Siagakan 13.200 Petugas Jaga Koneksi Ramadan-Lebaran