Jakarta kembali digenangi banjir. Bagi warga yang terdampak, ancamannya bukan cuma soal rumah yang kebanjiran atau barang-barang yang rusak. Ada bahaya lain yang mengintai, seringkali tak terlihat: masalah kesehatan. Salah satunya adalah infeksi Leptospirosis, penyakit yang kerap muncul usai banjir melanda.
Coba bayangkan air bah itu. Ia tak datang dari sumber yang bersih. Air itu menyapu jalanan, meluap dari selokan dan sungai, membawa serta segala macam kotoran. Saat masuk ke dalam rumah, air yang Anda lihat itu jelas bukan air bersih. Di dalamnya, bisa saja terkandung bakteri berbahaya.
Nah, dalam kondisi lingkungan yang becek dan lembab pasca-banjir, penyebaran bakteri jadi lebih mudah. Di sinilah Leptospirosis seringkali menemukan momentumnya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri bernama leptospira. Intinya, ini adalah penyakit zoonosis, yang artinya bisa berpindah dari hewan ke manusia.
Penularannya biasanya lewat urine hewan yang sudah terinfeksi, dan tikus adalah tersangka utamanya. Bakteri ini mencemari genangan air, tanah, atau lumpur. Lalu, ia masuk ke tubuh kita melalui luka yang terbuka, atau lewat selaput lendir di mata, hidung, dan mulut. Makanya, sangat penting untuk tidak asal membasuh muka dengan air banjir.
Menurut keterangan dari Cleveland Clinic, infeksi ini memang lebih umum terjadi di daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Tapi jangan salah, penularannya enggak cuma saat banjir. Aktivitas di air terbuka seperti arung jeram atau berenang di sungai juga berisiko. Hanya saja, hujan deras dan banjir benar-benar meningkatkan peluang penularannya secara signifikan.
Lalu, bagaimana kita tahu jika terinfeksi? Ada beberapa gejala khas yang patut diwaspadai.
Artikel Terkait
Di Balik Gemuruh Festival, Budaya Kritik Film di Jogja Sekarat
IIMS 2026 Siap Jadi Ajang Debut Global dan Serbuan Mobil Terbaru
Seskab dan Wakil Panglima TNI Bahas Percepatan Program Strategis hingga Pemulihan Pascabencana
Pemprov DKI Gratiskan Biaya Pengobatan bagi Korban Banjir