Di sisi lain, keputusan menggelar pemilu lebih awal ini bukan tanpa alasan. Analis politik melihat ini sebagai langkah strategis Takaichi untuk memanfaatkan momentum popularitasnya yang sedang naik. Soalnya, LDP saat ini tidak punya mayoritas mutlak di parlemen, sehingga seringkali kebijakan mereka mentok dan sulit diloloskan.
Yang menarik, periode kampanye resmi baru dimulai Selasa kemarin. Artinya, para kandidat hanya punya waktu 16 hari untuk melobi pemilih. Jangka waktu yang sangat pendek, bahkan tercatat sebagai yang terpendek dalam sejarah pemilu Jepang. Situasinya jadi makin panas dan serba cepat.
Sekarang, semua mata tertuju pada hasil 8 Februari. Apakah Takaichi bisa mempertahankan kursinya, atau justru harus menepati janji pengunduran dirinya? Kita tunggu saja.
Artikel Terkait
Ekonomi Indonesia Kuat Ditopang Konsumsi Domestik dan Utang Terkendali
Lebaran 2026: Lebih dari 638 Ribu Tiket Kereta Api Jarak Jauh Sudah Terjual
Pemerintah Andalkan Perjanjian Dagang ART sebagai Fondasi Hadapi Investigasi AS
KAI Siapkan 19 Perjalanan Tambahan Antisipasi Puncak Mudik Besok