Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, baru saja membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia berjanji akan mundur dari jabatannya jika koalisi pemerintah gagal meraih mayoritas kursi dalam pemilu bulan depan. Ya, taruhannya jelas: menang atau keluar.
Pemilu sendiri dijadwalkan pada 8 Februari mendatang. Ini terjadi lebih cepat dua setengah tahun dari seharusnya, setelah parlemen resmi dibubarkan pekan lalu. Jadi, waktu yang tersisa sangat singkat.
Dalam sebuah debat antar pemimpin partai yang digelar sebelum kampanye dimulai, Takaichi bersikap blak-blakan. "Kekalahan dalam pemilu akan membuat saya tidak bisa melanjutkan tugas sebagai perdana menteri," ujarnya tegas.
Lalu, apa sebenarnya yang ia maksud dengan 'kekalahan' itu? Ketika didesak untuk memperjelas, Takaichi pun memberikan patokan yang konkret. Ia akan mengundurkan diri jika koalisi pemerintah yang terdiri dari Partai Demokratik Liberal (LDP) pimpinannya dan Partai Inovasi Jepang yang lebih kecil gagal mengamankan lebih dari separuh kursi di majelis rendah.
Artikel Terkait
Ekonomi Indonesia Kuat Ditopang Konsumsi Domestik dan Utang Terkendali
Lebaran 2026: Lebih dari 638 Ribu Tiket Kereta Api Jarak Jauh Sudah Terjual
Pemerintah Andalkan Perjanjian Dagang ART sebagai Fondasi Hadapi Investigasi AS
KAI Siapkan 19 Perjalanan Tambahan Antisipasi Puncak Mudik Besok