Jakarta kembali diingatkan tentang ancaman lama: sampah di sungai. Gubernur DKI, Pramono Anung, dengan tegas menyoroti kebiasaan buruk sebagian warga yang masih membuang sampah sembarangan, terutama ke badan air. Menurutnya, tindakan ini bukan cuma soal kebersihan, tapi secara langsung memperbesar risiko banjir yang selalu mengintai ibu kota.
Persoalannya jadi semakin pelik karena kondisi tata ruang Jakarta. Pramono mengakui, struktur kota ini sudah sangat padat dan terbentuk sejak lama. Perubahannya pun tidak mudah.
"Sekarang ini yang jadi problem di Jakarta adalah tata ruangnya yang dari waktu ke waktu sangat sulit untuk diubah. Karena sudah given, termasuk di tempat ini, permukiman dekat Kali Sepak Kembangan,"
kata Pramono usai meninjau lokasi pengerukan Kali Sepak Kembangan, Jakarta Barat, Senin lalu.
Nah, justru karena ruang sudah sesak itulah, Pramono berharap masyarakat tidak menambah masalah. Perilaku buang sampah sembarangan, di mata dia, akan memperburuk keadaan yang sudah rumit.
“Yang menjadi problem buat saya adalah jangan sampai tata ruang yang sudah padat ini kemudian diperburuk oleh masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan,”
tegasnya.
Di sisi lain, langkah konkret pun mulai digulirkan. Gubernur telah menginstruksikan Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainah, untuk segera merancang aturan yang melarang pembuangan sampah sembarangan. Tujuannya jelas: mendongkrak kesadaran warga.
“Saya secara khusus sudah meminta kepada Ibu Wali Kota agar disampaikan kepada warga, kalau perlu dibuat peraturan supaya warga tidak membuang sampah sembarangan, terutama di tempat-tempat seperti ini,”
ujar Pramono.
Aturannya mungkin belum keluar, tapi Pramono sudah mengingatkan soal bahayanya. Kali Sepak Kembangan bukan saluran biasa. Ia terhubung langsung ke aliran Cengkareng Drain, sebuah urat nadi pengendali banjir di wilayah tersebut.
“Karena kalau pembuangan sampah masih dilakukan, itu akan mengganggu Cengkareng Drain dan juga pintu-pintu air yang selama ini kita kelola. Untuk itu kami memohon kesadaran dari warga,”
tutupnya. Imbauannya terdengar pilu, mencerminkan pertarungan Jakarta melawan dua musuh sekaligus: keterbatasan lahan dan kebiasaan warga yang susah diubah.
Artikel Terkait
Bupati Lampung Tengah Nonaktif Ardito Wijaya Dipindahkan ke Lapas Lampung Jelang Sidang Perdana
Kanselir Jerman Kecam AS dan Israel karena Meremehkan Kekuatan Iran
Transjakarta Sediakan Shuttle Gratis untuk Penumpang KRL Terdampak Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Lima Tim Kuda Hitam yang Siap Jadi Kejutan di Piala Dunia 2026