BONDOWOSO - Bayangkan ini: seorang ibu membuka bekal anaknya, lalu mengabadikan isinya dengan ponsel. Bisa jadi itu menu yang lezat dan bergizi, atau justru sebaliknya. Nah, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, justru membuka pintu lebar-lebar untuk hal semacam itu. Ia mempersilakan siapa saja orang tua, guru, atau warga untuk mengunggah foto maupun video menu Makan Bergizi Gratis (MBG) ke media sosial. Tak peduli itu menu bagus, bermasalah, atau bahkan yang nilainya dianggap tak sesuai anggaran Rp10.000 per porsi.
“Saya tidak pernah melarang orang tua siswa, guru, atau siapa pun untuk mengunggah menu MBG,” tegas Nanik.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah acara koordinasi di Bondowoso, Senin lalu. Acara yang juga dihadiri Bupati Bondowoso, RKH Abdul Wahid Hamid, itu mengumpulkan banyak pihak terkait, dari Forkompimda hingga para kepala Sentra Pemberian Pangan Gizi (SPPG).
Menariknya, Nanik tak sekadar mengizinkan. Ia bahkan menganjurkan agar unggahan itu dilengkapi keterangan yang rinci. Kapan waktu makannya, di sekolah mana, dan dari SPPG mana hidangan itu berasal. Menurutnya, data detil ini bukan untuk mencari kambing hitam.
“Justru sangat penting,” ujarnya. “Agar BGN, bersama kementerian dan lembaga lain, bisa cepat melacak, memastikan fakta di lapangan, dan mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan.”
Di sisi lain, langkah ini sebenarnya punya dua napas. Pertama, sebagai bentuk transparansi program pemerintah. Kedua, dan ini yang krusial, sebagai cara jitu menutupi keterbatasan. Coba bayangkan, saat ini tim pemantau BGN hanya beranggotakan sekitar 70 orang. Mereka harus mengawasi SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia, kerja 24 jam nonstop. Jelas sangat tidak sebanding.
Maka, partisipasi publik via media sosial dianggap seperti angin segar. “Kami justru sangat berterima kasih jika ada banyak saran, masukan, dan juga pengawasan dari orang tua murid, guru, maupun warga masyarakat lainnya,” tutur Nanik.
Dalam konteks inilah, ia menyayangkan tindakan seorang Kepala SPPG di Pesawaran, Lampung, yang viral beberapa waktu lalu. Oknum tersebut dikabarkan menghentikan pemberian MBG kepada dua anak, hanya karena ibunya mengkritik menu yang disajikan.
“Itu namanya arogan,” sindir Nanik tanpa basa-basi. “Kritik, saran, dan masukan harus kita dengarkan dengan baik. Itu untuk perbaikan.”
Jadi, mulai sekarang, jangan ragu untuk mengangkat ponsel. Setiap unggahan, entah itu pujian atau keluhan, disebutnya sebagai kontribusi nyata untuk menyempurnakan program andalan pemerintah ini.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, 7 Tewas dan 81 Luka-luka
Korban Tewas Kecelakaan KA Argo Bromo di Bekasi Bertambah Jadi 7 Orang, 81 Luka-Luka
Harga Emas Antam Naik Rp5.000 per Gram Jadi Rp2.814.000, Buyback Ikut Terangkat
China Blokir Akuisisi Startup AI Manus oleh Meta, Dua Pendiri Dilarang Tinggalkan Negeri