BI Yakinkan Rupiah Terus Menguat ke Level Fundamental Didorong Aliran Modal Asing Pasca Kenaikan Suku Bunga

- Jumat, 12 Juni 2026 | 19:45 WIB
BI Yakinkan Rupiah Terus Menguat ke Level Fundamental Didorong Aliran Modal Asing Pasca Kenaikan Suku Bunga

Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan terus merangkak naik menuju level fundamentalnya, didorong oleh derasnya aliran masuk modal asing ke instrumen portofolio domestik setelah kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Keyakinan ini muncul di tengah data yang menunjukkan penguatan nyata mata uang Garuda dalam sepekan terakhir.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, kurs rupiah ditutup pada level Rp17.865 per dolar AS pada penutupan pasar Jumat, 12 Juni 2026. Posisi ini menunjukkan apresiasi sebesar 0,84 persen dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu yang berada di level Rp18.010 per dolar AS. Angka ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa tren apresiasi tersebut mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap penguatan bauran kebijakan otoritas moneter. Menurutnya, serangkaian langkah strategis yang ditempuh BI berhasil meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik di mata investor global.

"Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing," papar Destry dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Ia menjelaskan, pasca-kenaikan suku bunga, daya tarik instrumen keuangan domestik meningkat signifikan. Hal ini tecermin dari tingginya aliran masuk transaksi non-residen pada 10 dan 11 Juni 2026. Pada periode tersebut, aliran modal asing yang masuk ke instrumen SRBI menembus Rp15,11 triliun, sementara pada Surat Berharga Negara (SBN) tercatat sebesar Rp3,91 triliun.

Sementara itu, selera risiko investor asing tidak hanya tertuju pada instrumen tradisional BI dan pemerintah. Aliran masuk modal asing juga membanjiri instrumen obligasi internasional Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Penjualan perdana obligasi tersebut sukses meraup dana segar hingga Rp26,9 triliun, yang sekaligus menjadi sinyal kuat tingginya kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik secara luas.

Di samping intervensi domestik, bank sentral juga memperkuat ketahanan eksternal makroekonomi melalui kerja sama lintas negara. BI telah menyepakati tiga konsensus strategis dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Kerja sama tersebut mencakup sinergi penguatan stabilitas keuangan regional, penebalan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), dan perluasan Local Currency Transaction (LCT).

Langkah untuk memperluas kerangka LCT ini diarahkan untuk secara bertahap menekan ketergantungan transaksi perdagangan terhadap dolar AS, yang pada gilirannya akan menopang stabilitas rupiah dari gejolak global. Destry pun menegaskan bahwa BI akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan demi menjaga stabilitas nilai tukar.

"Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju level fundamentalnya," tutupnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar