Rupiah Menguat ke Rp17.755 per Dolar AS, Dipicu Harapan Pembukaan Selat Hormuz

- Senin, 10 Agustus 2026 | 16:20 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.755 per Dolar AS, Dipicu Harapan Pembukaan Selat Hormuz

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026). Rupiah naik 142 poin atau sekitar 0,79 persen ke level Rp17.755 per dolar AS.

Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal datang dari harapan bahwa Iran dan Oman akan segera mencapai kesepakatan yang berujung pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Meskipun Iran pada hari Minggu menyatakan kesepakatan dengan Oman sudah berada di tahap akhir, negara itu menegaskan kembali bahwa jalur pelayaran tersebut baru akan dibuka kembali setelah Washington memenuhi syarat-syarat lain, termasuk pemberian kompensasi dari AS kepada Iran atas serangan-serangan luas yang terjadi.

Selain itu, meredanya kekhawatiran atas inflasi yang dipicu oleh energi mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed). Bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang. Menurut CME FedWatch Tool, pasar saat ini melihat sekitar 42 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September, turun dari sekitar 67 persen seminggu yang lalu.

Minggu ini pasar akan mengamati rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk bulan Juli pada hari Rabu. Para ekonom memperkirakan inflasi akan sedikit menurun dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan, dengan CPI inti juga turun dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen secara tahunan.

Dari sentimen domestik, Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Penunjukan ini tertuang dalam Surat Presiden (Surpres) yang telah diserahkan kepada pimpinan DPR untuk mengisi posisi kepala bank sentral.

Kepercayaan konsumen Indonesia kembali melemah pada Juli 2026. Indeks keyakinan konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia turun menjadi 116,8 dari 117,8 pada Juni 2026. Penurunan tersebut menjadi yang ketiga secara beruntun. Tren ini menunjukkan konsumen mulai lebih berhati-hati dalam melihat kondisi ekonomi dan menentukan keputusan belanja.

Jika tren penurunan berlanjut, ruang pertumbuhan konsumsi dapat ikut tertekan karena rumah tangga cenderung menahan belanja dan lebih selektif dalam mengalokasikan pendapatan. Dengan demikian, perkembangan IKK pada bulan-bulan berikutnya menjadi penting untuk melihat seberapa kuat daya tahan konsumsi domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.700-Rp17.750 per dolar AS.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags