Hasilnya? Volume DMO yang disalurkan ke BUMN melonjak drastis. Dari yang sebelumnya hanya berkisar 60-70 ribu kiloliter, kini angkanya membengkak menjadi 700 ribu kiloliter. Stok dalam jumlah besar itu kini ada di gudang Bulog dan ID FOOD.
"Sekarang 700 ribu KL. Minyak goreng ada di Bulog dan ID FOOD. Jadi pemerintah harus hadir. Nanti operasi pasar, baru sekarang Bulog besar-besaran. 700 ribu kiloliter kita siapkan. ID FOOD dengan Bulog," papar Amran.
Dengan stok yang melimpah, pemerintah merasa lebih siap untuk turun tangan langsung melalui operasi pasar. Langkah ini dianggap penting untuk melindungi masyarakat dari gejolak harga, terutama saat Ramadan dan Idulfitri nanti. Data terbaru menunjukkan, Cadangan Pangan Pemerintah untuk MinyaKita per 22 Januari 2026 sudah mencapai 7 ribu kiloliter.
Sebagai informasi, produksi minyak sawit Indonesia tahun 2024 tercatat sangat besar: 45,44 juta ton. Ekspornya mencapai 22,98 juta ton, membuat Indonesia menguasai hampir separuh (48,38%) pangsa pasar ekspor minyak sawit global. Posisi ini tentu memperkuat argumen bahwa kelangkaan seharusnya tak terjadi.
Soal harga, rinciannya sudah diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan. Harga maksimal di tingkat distributor pertama (D1) Rp13.500 per liter, lalu naik bertahap di tingkat berikutnya, hingga puncaknya di angka Rp15.700 per liter untuk konsumen akhir. Skema ini diharapkan bisa menjaga kestabilan dari pabrik hingga ke dapur masyarakat.
Artikel Terkait
Vietnam Makin Gampang Dijangkau Berkat Kolaborasi Maskapai Besar
Tiket Mudik Lebaran 2026 Sudah Bisa Dibeli Mulai Hari Ini
Pakar UGM Peringatkan Aturan Impor BBM Bisa Usir Investor Minyak Global
Tim SAR Berjuang di Tengah Cuaca Ekstrem, Evakuasi Korban Longsor Cisarua Terus Digenjot