Indonesia Sampaikan Syarat Khusus untuk Investor di Forum Ekonomi Davos

- Minggu, 25 Januari 2026 | 07:15 WIB
Indonesia Sampaikan Syarat Khusus untuk Investor di Forum Ekonomi Davos

Davos kembali ramai. Di tengah salju dan perbincangan global di World Economic Forum (WEF) 2026, Indonesia datang dengan agenda yang jelas: mendorong industri nasional agar tak sekadar numpang lewat, tapi benar-benar terikat dalam rantai pasok dunia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan hal itu. Menurutnya, momentum WEF harus dimanfaatkan untuk menunjukkan kesiapan Indonesia.

"Arah kebijakan investasi industri yang dibangun pemerintah difokuskan pada pendalaman struktur industri, peningkatan keterlibatan pelaku industri dalam negeri termasuk industri kecil dan menengah (IKM), serta perluasan jejaring industri nasional," ujarnya, Minggu (25/1/2026).

Nada bicaranya tegas. Investasi asing yang diincar bukanlah yang sekadar membawa uang tunai, melainkan yang membawa dampak riil bagi kemampuan industri dalam negeri.

“Investasi yang kami pacu adalah investasi yang membawa know-how, teknologi, dan keterlibatan pelaku industri lokal secara nyata," tegas Menperin.

Dia melanjutkan, "Indonesia tidak ingin investasi bersifat enclave tetapi terhubung erat dengan ekosistem industri dalam negeri serta memberi peluang produk Indonesia terlibat dalam rantai pasok dunia.”

Jadi, intinya sederhana: alih pengetahuan, penguatan rantai pasok lokal, dan integrasi ke pasar global adalah kuncinya. Komitmen ini, kata Agus, sejalan dengan pesan strategis yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto di forum yang sama.

Pesan itu intinya tentang positioning. Indonesia ingin dilihat sebagai mitra yang stabil dan kredibel, tentu saja dengan peluang investasi yang menggiurkan. Namun di balik itu, ada tekad untuk memajukan industri domestik secara signifikan.

WEF Davos bukan sekadar ajang pidato. Bagi Indonesia, ini adalah panggung untuk menunjukkan bahwa mereka serius bermain di liga global, dengan cara mereka sendiri.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar