Tahun Keempat Beruntun, Populasi China Terus Menyusut ke Titik Terendah

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 20:30 WIB
Tahun Keempat Beruntun, Populasi China Terus Menyusut ke Titik Terendah

Laporan terbaru dari China mengonfirmasi tren yang mengkhawatirkan: populasi negara itu terus menciut. Ini sudah tahun keempat berturut-turut angka penduduknya turun. Pada 2025, total populasi tercatat sekitar 1,404 miliar jiwa. Angka itu berarti ada pengurangan sekitar tiga juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Yang lebih memprihatinkan adalah angka kelahirannya. Tingkat kelahiran kasar China di 2025 hanya 5,63 per 1.000 penduduk. Ini adalah rekor terendah sejak negara itu mulai melakukan pencatatan modern di tahun 1949. Jumlah bayi yang lahir pun anjlok, cuma 7,92 juta. Itu artinya turun drastis 1,62 juta atau sekitar 17 persen dari tahun sebelumnya.

Padahal, kalau kita lihat mundur sedikit, ada secercah harapan di 2024. Setelah tujuh tahun terus merosot, angka kelahiran sempat naik pada tahun itu. Namun begitu, kenaikan itu ternyata cuma sesaat. Tren jangka panjangnya tetap suram.

Posisi China sebagai negara terpadat di dunia pun sudah lewat. Gelar itu resmi beralih ke India sejak 2023. Perubahan ini bukan cuma soal statistik, tapi sinyal besar bagi masa depan negeri Tirai Bambu.

Lalu, apa penyebabnya? Menurut sejumlah saksi dan survei yang beredar, alasannya klasik tapi sangat kuat: biaya hidup. Banyak keluarga muda yang mengeluhkan mahalnya biaya pengasuhan dan pendidikan anak. Tekanan ekonomi itu jadi hambatan serius bagi mereka yang ingin punya momongan.

Ada juga faktor budaya yang diduga ikut berperan. Tahun lalu, 2025, adalah tahun ular dalam penanggalan China. Dalam kepercayaan setempat, tahun ular sering dianggap kurang baik untuk memiliki anak. Meski terdengar tradisional, keyakinan semacam ini masih mempengaruhi keputusan banyak pasangan.

Gabungan antara beban finansial yang berat dan faktor sosio-kultural tampaknya terus mendorong angka kelahiran China ke titik nadir. Situasinya kompleks, dan solusinya tidak akan sederhana.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar