Menyusuri Jejak Sukawana: Saat Gunung Tangkuban Perahu Berbisik Cerita

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 06:06 WIB
Menyusuri Jejak Sukawana: Saat Gunung Tangkuban Perahu Berbisik Cerita

Dari Pos 2, karakter jalur mulai berubah. Hutan pinus dan kebun teh pelan-pelan menghilang, digantikan hutan alam yang lebih rapat dan liar. Pohon-pohon besar menjulang, semak-semak tumbuh tak beraturan. Udara terasa lebih dingin dan segar, seakan disaring langsung oleh paru-paru hutan. Di sinilah alam terasa paling jujur.

Perjalanan menuju Pos 3 mengharuskan kami melewati Tanjakan Ucup sebuah tanjakan yang cukup termasyhur di kalangan pendaki Sukawana. Dia menuntut kesabaran dan pengaturan napas yang baik. "Pelan-pelan saja, yang penting sampai," gumamku sambil terus melangkah.

Pos 3 terasa seperti hadiah setelah melewati tanjakan itu. Dari sini, kami lanjut ke Puncak Panyawangan, yang berada di ketinggian sekitar 2050 mdpl. Konon, nama 'Panyawangan' berasal dari kata 'nyawang' yang artinya memandang. Tempat ini memang disediakan untuk menikmati panorama.

Diceritakan oleh pendaki lokal, tempat ini sering dijadikan titik berhenti untuk merenung dan memandang alam. Dan pemandangannya memang terbuka lebar. Hutan, Gunung Burangrang, dan lautan awan berpadu jadi satu lukisan alam yang sulit diungkapkan kata-kata. Angin berhembus pelan, membisikkan cerita-cerita lama gunung ini.

Perjalanan dari Panyawangan menuju Puncak Upas Hill relatif lebih bersahabat. Jalurnya landai, meski masih melalui hutan yang rapat. Suara burung sulingan gunung kini mendominasi, berbeda dengan keriuhan kicauan di bagian awal tadi.

Sesekali, kami beruntung menyaksikan elang jawa melayang di udara, lalu menukik anggun ke dahan pohon. Kami terdiam sejenak, merasa kecil sekaligus beruntung bisa menyaksikan kebebasan yang begitu nyata.

Menjelang puncak, beberapa warung mulai bermunculan lagi. Di sebuah persimpangan, ada papan petunjuk yang jelas: jalur ke kiri dan lurus. Kami ambil yang lurus, sambil mengingat-ingat peringatan untuk tidak keluar jalur dan tetap berhati-hati. Gunung ini seolah terus berbicara, mengingatkan kami untuk tetap rendah hati.

Akhirnya, tibalah kami di Pos Puncak Upas Hill. Kami bayar tiket masuk untuk menikmati pemandangan kawah dari sisi ini.

Suasana di sini ramai, tapi menyenangkan. Inilah titik temu antara pendaki jalur Sukawana dengan wisatawan yang naik kendaraan. Beragam wajah dan bahasa membaur. Ada pendaki lokal, ada pula turis dari Korea dan Jepang yang antusias berfoto.

Kawah Tangkuban Perahu terbentang megah di depan mata, mengeluarkan uap tipis bagai napas bumi yang sudah berusia ribuan tahun. Angin dingin membelai wajah, membawa serta rasa lega dan syukur yang mendalam.

Duduk di Puncak Upas Hill, rasa puas itu akhirnya datang. Bukan cuma karena berhasil mencapai puncak, tapi lebih karena seluruh proses yang kami lalui bersama. Trek Sukawana memberi lebih dari sekadar pemandangan indah. Dia mengajarkan tentang kesabaran, kebersamaan, dan cara menikmati setiap langkah tanpa selalu terburu-buru.

Saat bersiap turun, hutan Sukawana terasa seperti teman lama yang baru saja berbagi segudang cerita. Gunung ini tidak hanya kami daki, tapi akan kami kenang, lama setelah langkah terakhir kami meninggalkan jalurnya.


Halaman:

Komentar