Insentif untuk mobil listrik atau BEV resmi berakhir akhir tahun lalu. Nah, setelahnya, pemerintah punya pesan tegas terutama untuk para pabrikan, banyak di antaranya dari Tiongkok: waktunya lokalisasi dan memenuhi syarat kandungan dalam negeri.
Menurut Eko Supriyatin, Director PCR & TBR Sailun Indonesia, situasi ini justru membuka peluang emas bagi industri ban. Kenapa? Soalnya, kontribusi ban terhadap nilai TKDN sebuah mobil itu cukup signifikan.
“Peluang yang sangat bagus. Karena masuknya ban berkontribusi lumayan besar terhadap TKDN pabrikan mobil. Jadi peluang besar untuk Sailun masuk di sana,”
ungkap Eko saat ditemui di Semarang, Minggu (18/1/2026).
Sebelumnya, lewat Perpres Nomor 79 Tahun 2023, pemerintah memang menggulirkan insentif fiskal untuk produsen yang impor. Tapi ada catatannya: harus ada komitmen serius untuk memproduksi di dalam negeri. Insentifnya sendiri berupa bea masuk nol persen, PPnBM DTP nol persen, dan subsidi PPN yang dipotong dari 10% jadi hanya 1%.
Semua keringanan itu punya deadline. Produsen yang ikut program wajib berinvestasi dan mulai memenuhi komitmen produksi lokalnya per 1 Januari 2026 ini.
Efek Domino dan Ekosistem Baru
Kalau aturan ini berjalan, efek domino-nya bakal terasa. Sailun, yang pabriknya berdiri di Demak, Jawa Tengah, misalnya, sudah siap menyerap tenaga kerja lokal. Tapi dampaknya tak berhenti di situ. Rantainya akan merambat ke pemasok bahan baku, seperti karet alam dan kawat baja.
“Berdirinya Sailun di Indonesia juga akan memberikan peluang bisnis bersama terhadap penyuplai bahan baku,”
tambah Eko.
Di fase awal, Sailun sudah mengantongi kontrak. Mereka akan jadi pemasok OE untuk VinFast mulai Februari 2036 nanti. Chery juga kemungkinan akan menyusul. BYD? Kemungkinannya terbuka lebar, mengingat mereka sudah pakai Sailun sebagai OE di pasar China.
Tapi jadi pemasok untuk pabrikan mobil ternama bukan perkara gampang. Prosesnya ketat.
“Kalau dengan pabrik mobil itu masuknya OE dan tidak mudah, mereka ada prosedur-prosedurnya. Mulai dari masalah chemical aspect, production aspect, supply aspect semuanya harus komplit dulu,”
pungkas Eko.
Pabrik yang Sudah Beroperasi
Sebenarnya, PT Sailun Manufacturing Indonesia sudah mulai produksi di tanah air sejak pertengahan 2025. Investasinya gak main-main, mencapai USD 251 juta atau sekitar Rp 3,9 triliun.
Pabrik yang terletak di Jatengland Industrial Park Sayung, Demak itu merakit berbagai tipe ban. Mulai dari ban mobil penumpang (PCR), truk/bus (TBR), ban radial untuk off-road (OTR), plus ban dalam dan flap.
Kapasitas produksinya saat ini cukup besar: 3 juta unit ban mobil penumpang per tahun, 600 ribu ban truk/bus, dan 37 ribu ton ban off-road. Dengan melokalkan beragam jenis ini, Sailun berharap bisa menawarkan portofolio produk yang lengkap dan kompetitif di pasar domestik.
Artikel Terkait
Kurniawan Dwi Yulianto Optimistis Timnas U-17 Mampu Bersaing di Grup Neraka Piala Asia
Iran Sita Dua Kapal Kargo Diduga Terkait Israel di Selat Hormuz
Polisi Bekuk Empat Pelaku Ganjal ATM di Minimarket Tangerang, Kerugian Capai Puluhan Juta
Stok Rudal AS Terkuras Hingga 45 Persen Selama Perang Tujuh Pekan Lawan Iran, Butuh Waktu 3-5 Tahun Pulih