Trump Ancang-ancang Pukul Prancis: Tarif 200 Persen untuk Anggur dan Sampanye

- Selasa, 20 Januari 2026 | 14:40 WIB
Trump Ancang-ancang Pukul Prancis: Tarif 200 Persen untuk Anggur dan Sampanye

Donald Trump kembali membuat pernyataan yang mengguncang. Kali ini, sasarannya adalah produk-produk Prancis yang mewah: anggur dan sampanye. Mantan Presiden AS itu tak tanggung-tanggung, mengancam akan membebani barang-barang tersebut dengan tarif impor setinggi 200 persen.

Ancaman ini, seperti dilaporkan Reuters, bukan tanpa alasan. Semuanya berawal dari penolakan tegas Presiden Prancis Emmanuel Macron terhadap sebuah undangan. Trump pekan lalu mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian Gaza, sebagai bagian dari fase kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Nah, sekitar 60 negara diundang untuk bergabung, dengan tawaran kontroversial: posisi permanen di dewan itu bisa didapat dengan kontribusi satu miliar dolar AS.

Macron, menurut sejumlah media di Prancis, sama sekali tidak berminat. Rencananya, dia akan menolak undangan untuk terlibat dalam inisiatif Trump tersebut.

“Saya akan mengenakan tarif 200 persen pada anggur dan sampanyenya, dan dia akan bergabung,” ujar Trump kepada para wartawan, dengan nada khasnya yang penuh keyakinan.

Memang, hubungan keduanya jarang sekali berjalan mulus. Ini bukan pertama kalinya mereka bersitegang. Belum lama ini, Macron juga sempat melontarkan kecaman keras terhadap upaya Trump yang berusaha membeli Greenland dari Denmark. Kedua pemimpin itu seperti tak pernah sejalan, dan insiden terbaru soal Dewan Perdamaian Gaza ini hanya menambah daftar panjang ketegangan di antara mereka.

Jadi, ancaman tarif 200 persen itu lebih dari sekadar perang dagang biasa. Ini adalah alat tekanan politik, sebuah cara Trump untuk mendesak sekutunya agar mendukung agenda luar negerinya. Bagaimana Prancis merespons? Kita tunggu saja langkah berikutnya dari Élysée.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar