“Saya akan mengenakan tarif 200 persen pada anggur dan sampanyenya, dan dia akan bergabung,” ujar Trump kepada para wartawan, dengan nada khasnya yang penuh keyakinan.
Memang, hubungan keduanya jarang sekali berjalan mulus. Ini bukan pertama kalinya mereka bersitegang. Belum lama ini, Macron juga sempat melontarkan kecaman keras terhadap upaya Trump yang berusaha membeli Greenland dari Denmark. Kedua pemimpin itu seperti tak pernah sejalan, dan insiden terbaru soal Dewan Perdamaian Gaza ini hanya menambah daftar panjang ketegangan di antara mereka.
Jadi, ancaman tarif 200 persen itu lebih dari sekadar perang dagang biasa. Ini adalah alat tekanan politik, sebuah cara Trump untuk mendesak sekutunya agar mendukung agenda luar negerinya. Bagaimana Prancis merespons? Kita tunggu saja langkah berikutnya dari Élysée.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Tegaskan Tak Ada Skrining Pendatang Pasca-Lebaran 2026
Menteri Kehutanan Sebut Percepatan Perhutanan Sosial di Lombok Arahan Langsung Presiden
Gedung Putih Gamifikasi Perang Iran Lewat Video Mirip Trailer Gim
Badan Gizi Nasional Tutup Sementara 492 Dapur MBG di Sumatra karena Tak Miliki Izin Higiene