“Saya akan mengenakan tarif 200 persen pada anggur dan sampanyenya, dan dia akan bergabung,” ujar Trump kepada para wartawan, dengan nada khasnya yang penuh keyakinan.
Memang, hubungan keduanya jarang sekali berjalan mulus. Ini bukan pertama kalinya mereka bersitegang. Belum lama ini, Macron juga sempat melontarkan kecaman keras terhadap upaya Trump yang berusaha membeli Greenland dari Denmark. Kedua pemimpin itu seperti tak pernah sejalan, dan insiden terbaru soal Dewan Perdamaian Gaza ini hanya menambah daftar panjang ketegangan di antara mereka.
Jadi, ancaman tarif 200 persen itu lebih dari sekadar perang dagang biasa. Ini adalah alat tekanan politik, sebuah cara Trump untuk mendesak sekutunya agar mendukung agenda luar negerinya. Bagaimana Prancis merespons? Kita tunggu saja langkah berikutnya dari Élysée.
Artikel Terkait
Trump Siap Umumkan Calon Ketua The Fed, Rivalitas Empat Kandidat Memanas
Kejagung Buka Lagi Penyidikan Korupsi Tata Kelola Minyak Pertamina
Survei Ungkap Mayoritas Konsumen Kopi Indonesia Prioritaskan Sertifikasi Halal
Menkeu Purbaya Anggap Pelemahan Rupiah Masih Wajar, Fondasi Ekonomi Diklaim Kuat