Trump Ancang-ancang Tarif, Greenland Jadi Bahan Tawar

- Senin, 19 Januari 2026 | 07:35 WIB
Trump Ancang-ancang Tarif, Greenland Jadi Bahan Tawar

Ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropanya kembali memanas. Pemicunya? Rencana Presiden Donald Trump untuk menguasai Greenland, wilayah otonom milik Denmark, yang kini memasuki babak baru yang lebih keras. Kali ini, Trump tak segan mengancam akan mengenakan tarif impor terhadap negara-negara yang menolak rencananya itu.

Lewat unggahan di Truth, platform media sosialnya, Trump dengan nada keras mengklaim bahwa Denmark dan negara-negara Uni Eropa selama ini telah "disubsidi" oleh AS. Menurutnya, sudah waktunya mereka membayar dan caranya adalah lewat tarif.

"Sekarang, setelah berabad-abad lamanya, sudah saatnya Denmark untuk mengembalikannya. Perdamaian dunia saat ini sedang dipertaruhkan! China dan Rusia menginginkan Denmark, dan tidak ada satu pun yang bisa dilakukan Denmark untuk mencegahnya,"

Begitu kira-kira pernyataannya yang dikutip dari laporan Aljazeera, Senin lalu. Ancaman itu pun langsung dikonkretkan. Terhitung mulai 1 Februari 2026 mendatang, Denmark, Swedia, Prancis, Jerman, Britania Raya, Belanda, dan Finlandia akan dikenai tarif tambahan 10 persen untuk barang-barang mereka yang masuk ke AS. Tarif itu bahkan bakal melonjak drastis menjadi 25 persen pada 1 Juni 2026.

"Tarif ini akan berlaku dan harus dibayarkan sampai tercapai kesepakatan atas pembelian Greenland secara lengkap dan menyeluruh," tegas Trump. Dia lalu menyentil sejarah panjang ambisi AS, yang katanya sudah berlangsung 150 tahun, untuk memiliki pulau es raksasa itu. "Banyak presiden yang sudah mencoba, dan untuk alasan yang baik, tetapi Denmark selalu menolak," ujarnya.

Namun begitu, penolatan itu tetap bulat. Baik pemerintah Denmark maupun otoritas Greenland sendiri sudah berkali-kali menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual. Di jalanan, warga Greenland juga tak tinggal diam. Protes menentang rencana Trump bermunculan dalam beberapa hari terakhir.

Sebenarnya, ini bukan pertama kali AS mengincar wilayah di dekatnya. Ambisi serupa sudah ada sejak abad ke-19. Pada 1867, mereka sukses membeli Alaska dari Rusia. Tapi upaya Menteri Luar Negeri William H. Seward untuk membeli Greenland justru gagal total.

Lalu ada momen Perang Dunia II. Saat Jerman menduduki Denmark, AS langsung mengambil alih Greenland. Mereka membangun pangkalan militer dan fasilitas radio di sana beberapa di antaranya masih beroperasi hingga kini sebagai basis permanen.

Upaya paling rahasia mungkin terjadi pada 1946. Presiden Harry S. Truman diam-diam menawarkan 100 juta dolar AS kepada Denmark untuk Greenland. Tawaran itu, lagi-lagi, ditolak mentah-mentah. Barulah pada 1991 proposal rahasia itu terbongkar ke publik.

Lalu, apa sih yang membuat Greenland begitu menarik bagi AS? Pertama, tentu soal strategi. Lokasinya yang berada di antara Amerika Utara dan Eropa menjadikannya titik vital untuk jalur udara, laut, dan tentu saja, sistem pertahanan misil AS. Kedua, soal kekayaan alam. Greenland disebut menyimpan mineral tanah jarang yang sangat berharga, meski aktivitas penambangan besar-besaran masih ditentang warga lokal yang lebih memilih hidup sebagai nelayan.

Di sisi lain, reaksi Eropa terhadap ancaman tarif Trump bisa ditebak: penolakan keras. Uni Eropa bahkan menggelar rapat darurat untuk membahas langkah respons.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dengan tegas menyatakan posisi Eropa.

“Penerapan tarif terhadap negara sekutu karena menjalankan upaya keamanan kolektif NATO sepenuhnya keliru. Kami tentu akan menindaklanjuti hal ini secara langsung dengan pemerintahan Amerika,”

Dia menegaskan bahwa Greenland adalah bagian integral Kerajaan Denmark, dan masa depannya harus ditentukan oleh Denmark dan rakyat Greenland sendiri.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, juga bersuara. Dia menekankan bahwa Eropa solid berdiri di belakang Denmark dan rakyat Greenland.

"Pengenaan tarif akan merusak hubungan transatlantik dan berisiko memicu spiral penurunan yang berbahaya. Eropa akan tetap bersatu, terkoordinasi, dan berkomitmen untuk menjaga kedaulatannya,"

Jelas, jalan yang dipilih Trump kali ini bukan cuma soal tawar-menawar wilayah. Ini sudah menyentuh urusan tarif dan ancaman ekonomi yang bisa mengobarkan perang dagang baru. Dan Eropa tampaknya siap menghadapinya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar