Upaya paling rahasia mungkin terjadi pada 1946. Presiden Harry S. Truman diam-diam menawarkan 100 juta dolar AS kepada Denmark untuk Greenland. Tawaran itu, lagi-lagi, ditolak mentah-mentah. Barulah pada 1991 proposal rahasia itu terbongkar ke publik.
Lalu, apa sih yang membuat Greenland begitu menarik bagi AS? Pertama, tentu soal strategi. Lokasinya yang berada di antara Amerika Utara dan Eropa menjadikannya titik vital untuk jalur udara, laut, dan tentu saja, sistem pertahanan misil AS. Kedua, soal kekayaan alam. Greenland disebut menyimpan mineral tanah jarang yang sangat berharga, meski aktivitas penambangan besar-besaran masih ditentang warga lokal yang lebih memilih hidup sebagai nelayan.
Di sisi lain, reaksi Eropa terhadap ancaman tarif Trump bisa ditebak: penolakan keras. Uni Eropa bahkan menggelar rapat darurat untuk membahas langkah respons.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dengan tegas menyatakan posisi Eropa.
Dia menegaskan bahwa Greenland adalah bagian integral Kerajaan Denmark, dan masa depannya harus ditentukan oleh Denmark dan rakyat Greenland sendiri.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, juga bersuara. Dia menekankan bahwa Eropa solid berdiri di belakang Denmark dan rakyat Greenland.
Jelas, jalan yang dipilih Trump kali ini bukan cuma soal tawar-menawar wilayah. Ini sudah menyentuh urusan tarif dan ancaman ekonomi yang bisa mengobarkan perang dagang baru. Dan Eropa tampaknya siap menghadapinya.
Artikel Terkait
Pemeriksaan Tersangka Dokter Richard Lee Batal, Kesehatan Jadi Alasan Penundaan
Rektor MNC University Jadi Penguji Disertasi Pariwisata di Udayana
BNPB Perpanjang Operasi Tembak Awan hingga Akhir Pekan, Waspada Hujan Lebat di Jakarta dan Jawa Barat
Hino Bertahan di Pasar Truk yang Lesu, Rekor 25 Tahun Tak Tergoyahkan