Matcha: Dari Upacara Teh Jepang Hingga Simbol Gaya Hidup Gen Z

- Senin, 19 Januari 2026 | 06:06 WIB
Matcha: Dari Upacara Teh Jepang Hingga Simbol Gaya Hidup Gen Z

Kalau kamu sering buka media sosial, pasti nggak asing lagi dengan foto-foto matcha latte yang hijau cantik. Minuman ini memang lagi naik daun banget. Tapi, jangan salah, matcha sekarang udah lebih dari sekadar minuman biasa. Ia udah jadi bagian dari gaya hidup anak muda, yang nggak cuma soal rasa, tapi juga soal kesehatan, penampilan visual yang estetik, dan bahkan jadi alasan buat nongkrong di coffee shop bareng teman.

Dulu, matcha mungkin cuma dikenal sebagai teh upacara dari Jepang. Sekarang? Ia menjelma jadi simbol tren modern yang mewakili selera generasi sekarang.

Semua ini, tentu saja, nggak lepas dari peran besar media sosial. Coba aja scroll TikTok atau Instagram. Konten tentang matcha bertebaran di mana-mana. Mulai dari video coffee shop yang aesthetic, review rasa, sampai sekadar muncul di daily vlog para influencer. Mereka nggak cuma pamer minumannya, tapi juga sering banget ngaitin matcha dengan gaya hidup sehat katanya kaya antioksidan dan bikin rileks. Hal kayak gini yang bikin anak muda penasaran dan akhirnya ikut-ikutan mencoba.

Salah satunya adalah Naura Al Faria Fara, mahasiswi jurusan Gizi di Universitas PGRI Yogyakarta. Buat dia, ketertarikan pada matcha nggak cuma sekadar ikut-ikutan tren.

"Matcha tuh rasanya enggak ngebosenin. Kalau lagi ke coffee shop, aku suka beli matcha karena di setiap tempat rasanya beda-beda, jadi sekalian tahu," ujarnya saat ditemui pertengahan Desember lalu.

Naura ngaku cukup sering ngonsumsi matcha, biasanya satu sampai dua kali seminggu, terutama pas weekend lagi ngerjain tugas di kafe bareng teman-teman. Menurutnya, daya tarik utama ada di teksturnya yang lembut dan rasa yang nggak terlalu manis.

"Sekarang matcha juga sudah banyak variannya, jadi bikin pengin terus coba," tambahnya.

Efeknya juga ngaruh ke suasana hati. Naura merasa lebih bersemangat ngadepin laporan praktikum atau tugas kuliah setelah minum matcha. Dan tentu saja, tampilan visualnya yang hijau cerah itu jadi nilai plus sendiri.

"Warnanya cantik, estetik banget dilihat. Apalagi kalau kemasannya lucu," katanya. Kemudahan bikin matcha sendiri di rumah juga disebutnya jadi salah satu pendorong popularitasnya.

Namun begitu, di balik kesan modernnya, matcha punya sejarah panjang yang kompleks. Cikal bakalnya adalah teh bubuk yang pertama kali berkembang di masa Dinasti Song, Tiongkok. Waktu itu, teknik menggiling daun teh jadi bubuk halus untuk diseduh mulai dipraktikkan. Tradisi ini kemudian dibawa ke Jepang dan jadi bagian penting dari budaya minum teh, khususnya dalam upacara teh Zen. Kini, nilai tradisional itu bertransformasi. Matcha hadir dalam segala bentuk: minuman, dessert, bahkan sampai jadi campuran burger.

Fenomena ini jelas dirasakan pelaku industri. Rizal Firdaus, seorang barista, bilang matcha adalah menu yang konsisten laris.

"Matcha itu stabil penjualannya dan jadi best seller karena banyak anak muda yang suka," ujarnya pada suatu Jumat di Desember.

Kafe tempatnya bekerja bahkan punya sister brand burger yang menjual burger beef matcha. Pengalamannya bekerja di berbagai kafe menunjukkan penjualan matcha relatif stabil, meski dipengaruhi grade bubuk yang dipakai.

"Pengaruhnya ke pemasukan cukup terasa. Kalau bahan lain biasanya repurchase sebulan sekali, matcha bisa dua kali sebulan," jelas Rizal. Menurutnya, matcha masih sangat relevan untuk dikembangkan jadi varian lain, seperti dirty matcha.

Lalu, bagaimana dari kacamata pemasaran? Erwan Sudiwijaya, seorang pengamat sekaligus praktisi pemasaran, punya pandangannya sendiri. Ia bilang, anak muda mengenal matcha banyak karena pengaruh content creator.

"Karakter Gen Z itu lebih peduli kesehatan, tapi estetika juga penting. Matcha dianggap minuman yang sehat dan trendy, jadi cocok dengan gaya hidup mereka," ujarnya.

Erwan nambahkan, algoritma media sosial berperan besar menyebarkan tren ini. Saat konten matcha membanjiri linimasa, ia jadi terlihat baru dan menarik. "Informasi dari media sosial sangat memengaruhi keputusan beli," katanya.

Ia juga membedakan motivasi konsumen: antara yang benar-benar butuh manfaat kesehatan dan yang sekadar ikut-ikutan atau FOMO.

"Lebih banyak yang beli matcha karena estetika. Ke depan, bisa saja muncul tren minuman lain," jelas Erwan.

Faktor lain yang berpengaruh? Kemasan dan suasana kafe. Warna hijaunya yang mencolok memang mudah dipromosikan di media sosial. Tapi Erwan menilai tren ini mungkin nggak permanen.

"Konsumsi matcha mungkin akan menurun, tapi tetap akan ada loyalis yang bertahan karena memang menyukai manfaatnya," pungkasnya.

Pada akhirnya, fenomena matcha ini menunjukkan satu hal menarik: bagaimana sebuah produk tradisional bisa beradaptasi dan bertahan di tengah arus budaya populer. Di tangan anak muda, matcha telah berubah. Ia bukan cuma minuman, tapi juga representasi identitas, selera, dan gaya hidup yang terus bergerak mengikuti zaman.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar