Fenomena ini jelas dirasakan pelaku industri. Rizal Firdaus, seorang barista, bilang matcha adalah menu yang konsisten laris.
Kafe tempatnya bekerja bahkan punya sister brand burger yang menjual burger beef matcha. Pengalamannya bekerja di berbagai kafe menunjukkan penjualan matcha relatif stabil, meski dipengaruhi grade bubuk yang dipakai.
Lalu, bagaimana dari kacamata pemasaran? Erwan Sudiwijaya, seorang pengamat sekaligus praktisi pemasaran, punya pandangannya sendiri. Ia bilang, anak muda mengenal matcha banyak karena pengaruh content creator.
Erwan nambahkan, algoritma media sosial berperan besar menyebarkan tren ini. Saat konten matcha membanjiri linimasa, ia jadi terlihat baru dan menarik. "Informasi dari media sosial sangat memengaruhi keputusan beli," katanya.
Ia juga membedakan motivasi konsumen: antara yang benar-benar butuh manfaat kesehatan dan yang sekadar ikut-ikutan atau FOMO.
Faktor lain yang berpengaruh? Kemasan dan suasana kafe. Warna hijaunya yang mencolok memang mudah dipromosikan di media sosial. Tapi Erwan menilai tren ini mungkin nggak permanen.
Pada akhirnya, fenomena matcha ini menunjukkan satu hal menarik: bagaimana sebuah produk tradisional bisa beradaptasi dan bertahan di tengah arus budaya populer. Di tangan anak muda, matcha telah berubah. Ia bukan cuma minuman, tapi juga representasi identitas, selera, dan gaya hidup yang terus bergerak mengikuti zaman.
Artikel Terkait
Alfrida Pasongli: Dari Kios BRILink di Dekai, Menggerakkan Ekonomi Warga Yahukimo
Prabowo Buka Diplomasi Global dengan Singgah di London Sebelum Pidato di Davos
Trump Ancang-ancang Tarif, Greenland Jadi Bahan Tawar
Hujan Deras Lumpuhkan 82 Perjalanan Kereta, Lintasan di Semarang dan Jakarta Terendam