World Economic Forum di Davos tahun depan bakal jadi ajang berbeda bagi Indonesia. Bukan cuma soal angka dan presentasi bisnis, pemerintah ternyata mau main cantik dengan mengandalkan kekuatan budaya. Strateginya sederhana: di tengah forum ekonomi paling bergengsi sedunia itu, kita akan tampilkan wajah Nusantara.
Menteri Investasi sekaligus Hilirisasi, Rosan P. Roeslani, bilang kalau pendekatan ini akan kental terasa di acara "Indonesia Night". Bayangkan, para pejabat tinggi, investor global, dan bos-bos korporasi dunia berkumpul dalam suasana santai, ditemani pertunjukan seni dan budaya khas kita. Acara semacam ini, menurut Rosan, justru efektif bangun kepercayaan. Lebih dari sekadar meeting formal di ruang panel.
"WEF ini momentum yang sangat baik," ujar Rosan dalam pernyataannya, Minggu (18/1/2026).
"Di sana kami bisa menyampaikan narasi nasional, rencana-rencana ke depan, termasuk berbagai kebijakan dan regulasi baru. Intinya, pesannya bahwa Indonesia terus bergerak maju."
Logikanya jelas. Di tengah situasi geopolitik yang makin terfragmentasi, dialog berbasis budaya dianggap jadi jembatan penting. Indonesia ingin dilihat bukan cuma sebagai pasar yang besar atau destinasi investasi semata. Lebih dari itu, sebagai mitra global yang stabil, terbuka, dan punya identitas kuat. Budaya dijadikan pintu masuk untuk hubungan ekonomi jangka panjang.
Namun begitu, tentu saja diplomasi budaya bukan satu-satunya senjata. Ada konsep "Indonesia Incorporated" yang juga akan ditonjolkan. Intinya, semua kekuatan nasional pemerintah, BUMN, hingga swasta tampil kompak dengan satu suara.
Artikel Terkait
Persib Berburu Bek PSG, Kurzawa Didekati untuk Perkuat Lini Belakang
MilkLife Soccer Challenge Semarang: Bibit Masa Depan Timnas Putri Bersinar di Lapangan
Trump Guncang Wall Street dengan Wacana Batas Bunga Kartu Kredit
Arus Balik Libur Panjang: 157 Ribu Kendaraan Masuk Jakarta dalam Sehari