"Habib Ali memberi amanah kepada anaknya, Habib Muhammad, agar di tempat ziarah beliau dilarang membawa air. Hal ini dilakukan untuk menjaga akidah agar tidak timbul kemusyrikan atau tindakan menduakan Allah," jelas Ari.
Meski buka 24 jam nonstop, akses ke makam akan ditutup sementara setiap waktu salat fardu tiba. Tujuannya agar peziarah dan petugas bisa menunaikan ibadah dengan tenang terlebih dahulu.
Di antara kerumunan, Siti Aisyah asal Klender terlihat khusyuk. Dia datang bersama rombongan majelis taklimnya, sebuah rutinitas tahunan yang tak pernah terlewat. Selain untuk Isra Miraj, ziarah ini juga jadi penyambut bulan suci Ramadhan.
"Kebetulan hari ini bertepatan dengan 27 Rajab dan hari Jumat. Kami ingin mendapat keberkahan di Sayyidul Ayyam. Di dalam tadi kami tawasul, baca Yasin, dan membaca Maulid Simtudduror," kata Siti.
Bagi dia dan banyak jemaah lain, Habib Ali Kwitang adalah figur istimewa. Karomahnya, kata mereka, masih terasa hingga sekarang.
Memang, sosok Habib Ali bukan sembarang ulama. Dia dikenal sebagai pendiri Islamic Center Indonesia, majelis taklim tertua di negeri ini. Perannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia juga tak kecil. Dia adalah guru spiritual Presiden Soekarno. Konon, dia bahkan memberi masukan soal tanggal kemerdekaan dan momen dibacakannya proklamasi oleh Bung Karno. Sebuah warisan yang membuat namya terus dikenang, jauh melampaui batas kota Jakarta.
Artikel Terkait
Mari Elka Pangestu Peringatkan Dampak Konflik AS-Israel-Iran ke Ekonomi Indonesia
Pemerintah Larang Truk Besar di Jalan Tol dan Arteri Utama Saat Mudik Lebaran 2026
Gubernur DKI Khawatir Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Harga, Siapkan Langkah Antisipasi
APINDO dan Produsen Listrik Swasti Khawatir Pemangkasan Produksi Batu Bara Ancam Pasokan Listrik Nasional