Pesona Ubi Cilembu itu tidak pernah instan. Ia mengajak kita untuk sabar, untuk menunggu. Coba bayangkan: saat dipanggang perlahan, dari balik kulitnya yang pecah-pecah merembes cairan lengket berwarna keemasan. Aromanya? Lembut, hangat, dan benar-benar menenangkan. Itulah yang disebut sebagai madu alaminya.
Orang yang cuma lewat pun sering berhenti, penasaran. Dan anehnya, menunggu itu justru jadi bagian dari kenikmatannya sendiri. Dari momen sederhana itulah, hubungan emosional kita dengan ubi ini mulai terjalin.
Semua berawal dari sebuah desa di Sumedang, tepatnya Desa Cilembu di Kecamatan Pamulihan. Tapi jangan salah, Cilembu bukan cuma titik di peta belaka. Ia adalah ruang perjumpaan yang unik antara tanah, iklim, dan kebiasaan turun-temurun warga. Dari sanalah, rasa manis yang khas itu menyebar perlahan, hingga akhirnya jadi identitas kuliner yang dikenal luas.
Popularitasnya tentu tidak dibangun dalam semalam. Menurut cerita para petani setempat, penanamannya sudah dimulai sejak sekitar tahun 1975-an. Awalnya sih, ubi ini cuma dikenal sebagai Ubi Nirkum dan belum banyak yang melirik. Baru pada dekade 1980-an, namanya mulai mencuat seiring kabar tentang rasa manisnya yang luar biasa. Permintaan pasar pun merangkak naik.
Puncaknya terjadi pada tahun 1990-an. Selama puluhan tahun, petani melakukan seleksi alami secara turun-temurun dengan ketekunan yang luar biasa. Mereka menjaga rasa, ukuran, dan kualitasnya. Dari proses panjang dan sabar itulah karakter Ubi Cilembu yang kita kenal sekarang akhirnya terbentuk.
Ciri fisiknya mudah dikenali. Umbinya memanjang dengan urat yang jelas, kulitnya berwarna krem kemerahan. Dagingnya pucat kalau masih mentah, tapi berubah jadi kuning cerah nan menggoda begitu matang. Teksturnya lembut dan pulen, beda dengan ubi jalar lain yang kadang terasa berair.
Menurut Rahayu dan Saptana (2018) dalam buku Teknologi Pascapanen Ubi Jalar, struktur pati Ubi Cilembu itu memang khas. Kandungan gula alaminya lebih tinggi. Kombinasi inilah yang kemudian menghasilkan sensasi manis yang lembut dan bertahan lama di lidah.
Nah, yang menarik, rasa manis optimalnya justru butuh kesabaran ekstra. Ubi ini idealnya tidak langsung diolah setelah dipanen. Perlu disimpan dulu sekitar satu sampai tiga minggu.
Pada masa 'istirahat' ini, enzim amilase bekerja mengurai pati menjadi gula sederhana. Lalu, saat dipanggang dengan suhu tinggi, gula alami itu mengalami karamelisasi. Proses inilah yang memperkuat aroma dan memperdalam rasa manis khasnya.
Di sisi lain, Ubi Cilembu punya peran yang lebih besar dari sekadar pemuas lidah. Ia menyimpan potensi serius untuk ketahanan pangan. Sebagai sumber karbohidrat alternatif, ubi jalar punya keunggulan adaptasi yang patut diacungi jempol.
Artikel Terkait
Pabrik BYD Subang Siap Beroperasi, Target Produksi Kuartal I 2026
Balikpapan Berkisah: Dari Sumur Mathilda hingga Dapur Energi Masa Depan
Duel Falcao vs Ricardinho Siap Panaskan Jakarta di X Series 2
Danantara Incar Industri Tekstil, Utamakan Penciptaan Lapangan Kerja