AS Luncurkan Fase Kedua Rencana Gaza: Dari Gencatan Senjata ke Pemerintahan Teknokrat

- Kamis, 15 Januari 2026 | 13:20 WIB
AS Luncurkan Fase Kedua Rencana Gaza: Dari Gencatan Senjata ke Pemerintahan Teknokrat

Fase kedua dari rencana perdamaian Gaza akhirnya diluncurkan oleh Amerika Serikat. Ini bukan lagi sekadar soal gencatan senjata. Fokusnya kini bergeser ke hal-hal yang lebih kompleks dan jangka panjang: demiliterisasi, rekonstruksi besar-besaran, dan yang tak kalah penting, pembentukan sebuah pemerintahan transisi yang diisi para teknokrat.

Pengumuman resminya datang dari Steve Witkoff, Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah. Lewat sebuah pernyataan di platform X, ia menyampaikan pesan yang tegas.

"Atas nama Presiden Donald Trump, kami umumkan peluncuran Fase Dua Rencana 20 Poin untuk Mengakhiri Konflik Gaza. Kita beralih dari gencatan senjata menuju demiliterisasi, pemerintahan teknokratis, dan rekonstruksi,"

Begitu bunyi pernyataan Witkoff, seperti yang dilaporkan Xinhua, Kamis (15/1/2026).

Ia kemudian merinci, fase ini akan membentuk Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) sebagai pemerintahan transisi. Tugas berat mereka langsung terbayang: memulai proses demiliterisasi dan rekonstruksi total. "Khususnya pelucutan senjata semua personel yang tidak berwenang," tegasnya.

Di sisi lain, pengumuman AS ini juga menyisipkan peringatan keras. Mereka menegaskan kembali ekspektasi agar Hamas mematuhi semua kewajibannya. Poin yang paling sensitif adalah pengembalian jenazah sandera yang masih tersisa. Witkoff tak main-main, pelanggaran oleh Hamas akan berujung pada konsekuensi serius.

Menurut penuturan Witkoff, sebenarnya Hamas sudah mengambil langkah. Mereka telah mengembalikan semua sandera yang masih hidup, plus jenazah 27 dari 28 sandera yang tewas kepada Israel. Itu terjadi setelah gencatan senjata yang dimediasi oleh tiga negara: Mesir, Turki, dan Qatar. Tapi tampaknya, bagi AS, satu jenazah yang belum kembali pun menjadi persoalan besar.

Rencana besar ini sendiri bukan barang baru. Pemerintahan Trump sudah meluncurkannya sejak September lalu sebagai sebuah paket tiga fase berisi 20 poin. Tujuannya jelas: mengakhiri konflik Israel-Hamas yang berkecamuk sejak Oktober 2023.

Namun begitu, jalan menuju perdamaian tak pernah mulus. Fase pertama rencana itu diwarnai saling tuduh antara kedua belah pihak. Israel dan Hamas berulang kali menuding satu sama lain melanggar kesepakatan. Suasana saling curiga itu kini menjadi tantangan terberat bagi fase kedua yang lebih ambisius ini. Bisakah rekonstruksi dimulai di tengah reruntuhan kepercayaan yang masih berserakan?

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar