Gejolak di Selat Hormuz ternyata tak cuma soal kapal dan minyak. Dampaknya merembet jauh, sampai ke harga plastik di dalam negeri. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap hal itu usai bertemu dengan para pelaku industri, mulai dari hulu ke hilir.
Intinya, situasi geopolitik itu bikin struktur harga produk plastik jadi kacau. Penyesuaian harga pun hampir tak terhindarkan. Penyebabnya berlapis: biaya logistik dan freight pelabuhan naik, ada tambahan biaya premi (surcharge), dan yang paling kentara, waktu pengiriman bahan baku molor jauh.
Agus menjelaskan, "Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari."
Bayangkan saja. Waktu tempuh hampir empat kali lipat. "Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi," tambahnya.
Di tengah situasi serba tak pasti ini, pemerintah mengaku sedang berupaya keras. Fokusnya adalah memenuhi kebutuhan bahan baku nasional. Namun begitu, mereka juga harus jaga keseimbangan yang rumit: antara kebutuhan sektor energi seperti BBM, dengan kebutuhan industri petrokimia. Dua-duanya penting, dua-duanya butuh perhatian.
Pertemuan itu juga membuka wacana menarik. Ternyata ada potensi bahan baku substitusi yang bisa digali dari dalam negeri, salah satunya crude palm oil atau CPO. Memang, dari segi harga masih terbilang tinggi. Tapi opsi ini dinilai layak untuk dieksplorasi lebih lanjut. Tujuannya jelas: diversifikasi dan kurangi ketergantungan pada impor.
"Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO," kata Agus.
Ia mengakui, "Meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang."
Lalu, bagaimana dengan stok plastik saat ini? Agus menyampaikan secercah optimisme dari hasil pertemuan tersebut. Industri memberikan jaminan bahwa stok seharusnya tak bermasalah.
"Saya garis bawahi kata seharusnya," ujarnya dengan hati-hati.
"Karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini."
Komitmen lain yang mengemuka adalah dari industri sendiri. Mereka berjanji akan menjaga kesinambungan suplai plastik, terutama untuk industri kecil. Harapannya, produk-produk lokal tetap bisa bersaing di pasar.
Namun begitu, tantangan ke depan diprediksi makin berat. Persaingan global untuk mendapatkan bahan baku petrokimia akan semakin ketat. Karena itu, pelaku industri punya usulan: Indonesia perlu mengakses bahan baku yang tak cuma berkualitas, tapi juga bisa meningkatkan daya saing perusahaan dan produknya di pasar internasional.
Menutup pembahasan, Agus menegaskan komitmen kementeriannya. "Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global."
Perjalanan masih panjang. Tapi setidaknya, ada upaya untuk mencari solusi di tengah gejolak yang datang dari jauh itu.
Artikel Terkait
Belasan IKM Binaan Kemenperin Masuk Rantai Pasok Perlengkapan Haji 2026
Negosiasi Impor LPG dari Rusia Masih Alot di Tengah Lonjakan Kebutuhan Nasional
Prabowo Terbitkan Tiga Aturan Baru untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Mendikti Siapkan Sinergi Nasional Tangani Kekerasan Seksual di Kampus