Prabowo Beri Sinyal Kuat, Industri Tekstil dan Garmen Menanti Langkah Nyata

- Kamis, 15 Januari 2026 | 12:20 WIB
Prabowo Beri Sinyal Kuat, Industri Tekstil dan Garmen Menanti Langkah Nyata

Presiden Prabowo Subianto memberikan sinyal kuat. Bukan cuma politik, tapi juga ekonomi. Sinyal itu ditujukan untuk industri tekstil dan garmen nasional, sektor padat karya yang jadi penopang jutaan lapangan kerja. Komitmen ini, jika diwujudkan, bisa menentukan arah industri ke depan.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto menyambut baik. Menurutnya, komitmen presiden yang menempatkan garmen dan tekstil sebagai sektor strategis itu harus segera jadi kenyataan. “Industri ini berperan vital dalam penciptaan lapangan kerja dan stabilitas sosial-ekonomi nasional,” kata Anne, Kamis (15/1/2026).

Baginya, sinyal dari pucuk pimpinan negara itu perlu segera diterjemahkan oleh kementerian, lembaga, hingga pemda. Bentuknya? Kebijakan, regulasi, dan instrumen pelaksanaan yang nyata. Tanpa itu, semua hanya akan jadi wacana.

Di sisi lain, ada penekanan khusus dari Presiden soal revitalisasi rantai pasok. AGTI melihat ini sebagai langkah tepat. Rantai pasok tekstil kita kan panjang, dari hulu ke hilir. Nah, penguatannya harus menyeluruh, agar daya saing dan nilai tambah industri nasional bisa terdongkrak secara berkelanjutan.

“Penguatan industri hulu dalam negeri menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis,” tegas Anne.

Namun begitu, dia juga realistis. Kapasitas dalam negeri saat ini belum bisa memenuhi semua kebutuhan. Karena itu, impor bahan baku masih diperlukan agar roda produksi tidak macet total. “Impor bahan baku bagi produsen yang patuh aturan perlu berjalan cepat dan efisien,” katanya. Tujuannya jelas: menjaga daya saing industri agar tidak tergerus.

Lalu, ada program hilirisasi yang juga dibahas. Ini disebut-sebut sebagai kunci untuk meningkatkan nilai tambah. Dengan rantai yang panjang, hilirisasi bisa memperkuat kemandirian sekaligus menjaga peran sektor ini sebagai penyedia kerja dan penggerak ekonomi.

Pembahasan rapat terbatas di kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, ternyata cukup luas. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membeberkan, selain tekstil, rapat juga membahas penguatan sektor otomotif dan elektronik lewat investasi teknologi semikonduktor.

“Hal ini ditujukan untuk membangun industri chip masa depan Indonesia yang akan dimanfaatkan untuk industri otomotif, digital, dan elektronik,” jelas Teddy.

Kembali ke tekstil, pengembangan teknologi dan semikonduktor ini dinilai punya dampak strategis untuk menerapkan industri 4.0. Masalahnya, ketergantungan pada mesin impor masih tinggi. Maka, penguatan industri permesinan dalam negeri jadi agenda yang tak kalah penting.

Harapan Anne Sutanto jelas. Arahan presiden harus segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Deregulasi, debirokratisasi perizinan, penyediaan energi bersaing, plus dukungan fiskal dan pembiayaan. Itu semua kuncinya.

“Dengan kebijakan yang terintegrasi, industri garmen dan tekstil dapat kembali meningkatkan daya saing,” pungkasnya. Dan memperkuat posisinya, tentu saja, sebagai tulang punggung manufaktur padat karya di tanah air.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar