Dustira: Saksi Bisu Sejarah yang Tetap Berdenyut di Cimahi

- Kamis, 15 Januari 2026 | 01:06 WIB
Dustira: Saksi Bisu Sejarah yang Tetap Berdenyut di Cimahi

Setelah Jepang angkat kaki dan Indonesia merdeka, situasi di Cimahi masih belum tenang. Periode 1945-1947, rumah sakit ini dikuasai NICA. Mereka berusaha mengembalikan kontrol Belanda. Lagi-lagi, Dustira terjebak di pusaran revolusi fisik, menjadi saksi bisu konflik bersenjata.

Baru setelah pengakuan kedaulatan RI di tahun 1949, terjadi titik balik. Militaire Hospital resmi diserahkan ke TNI.

Letkol dr. Raden Kornel Singawinata yang menerimanya, lalu diangkat jadi kepala rumah sakit. Namanya pun berganti jadi Rumah Sakit Territorium III. Peralihan dari kolonial ke nasional akhirnya terjadi.

Momentum penting lainnya datang tujuh tahun kemudian. Saat perayaan HUT ke-10 Territorium III Siliwangi pada 19 Mei 1956, Panglimanya, Kolonel A. Kawilarang, menetapkan nama baru.

Rumah sakit ini resmi dinamai Rumah Sakit Dustira, sebagai penghormatan.

Nama itu diambil dari Mayor dr. Dustira Prawiraamidjaya, seorang dokter pejuang asal Tasikmalaya. Lulusan Geneeskundige School di Batavia ini dikenal berani merawat korban perang di garis depan, termasuk di wilayah Padalarang. Dedikasinya diabadikan menjadi nama yang melekat hingga kini.

Memasuki era modern, RS Tk. II Dustira terus berkembang. Di bawah Kesdam III Siliwangi, ia berfungsi sebagai rumah sakit rujukan. Pasiennya bukan cuma prajurit dan keluarga, tapi juga masyarakat umum dan peserta BPJS. Fasilitasnya diperbarui, teknologi dimutakhirkan, tapi bangunan bersejarahnya tetap dipertahankan. Saat ini, Kolonel Ckm dr. Nursuandy Indra Djaya yang memimpin.

Jadi, Dustira itu lebih dari sekadar tempat berobat. Ia adalah warisan hidup. Di lorong-lorongnya, cerita tentang perang, pengabdian, dan kemanusiaan berbaur jadi satu. Dari Militaire Hospital yang dingin, ia bertransformasi menjadi rumah sakit rujukan yang hangat. Ia terus hidup, melayani sekaligus merawat ingatan kolektif sebuah bangsa.


Halaman:

Komentar