Dia juga mengklaim punya bukti. Pihaknya disebut memiliki rekaman video pengiriman senjata kepada para demonstran. Tak hanya itu, pengakuan dari para demonstran yang berhasil ditangkap akan segera dirilis ke publik. Intinya, bagi Araghchi, seluruh kerusuhan ini “dipicu dan didorong” oleh unsur-unsur asing. Pasukan keamanan, tegasnya, akan memburu setiap orang yang bertanggung jawab.
Meski tak menyebut nama secara terbuka, Araghchi merasa pihak yang dimaksud sudah jelas. Siapa lagi kalau bukan yang akan mendapat keuntungan besar jika konflik bersenjata Iran-AS benar-benar pecah? Pernyataannya ini merupakan respons langsung atas ancaman Trump yang mengatakan AS akan menyerang jika gelombang demonstrasi terus menelan korban jiwa. Itu semua, bagi Araghchi, hanyalah narasi yang sengaja dikondisikan.
Di sisi lain, Iran mengaku siap menghadapi segala kemungkinan. Menlu itu menegaskan kemampuan militer negaranya telah meningkat pesat sejak serangan gabungan AS dan Israel pada Juni 2025 silam. Mereka tidak akan gentar. Dan yang pasti, Iran tak akan membiarkan kelompok teroris yang didukung pihak luar terutama Israel terus melanjutkan aksinya di wilayah mereka.
Namun begitu, di balik kesiapan perang, ada juga upaya diplomasi yang dijajaki. Pemerintah Iran membuka kemungkinan pertemuan dengan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, atau opsi dialog lainnya. Tujuannya jelas: mencegah perang pecah. Hanya saja, Araghchi meragukan kesungguhan Amerika. Bagaimana mungkin dialog yang konstruktif bisa berjalan, sementara ancaman serangan masih terus disampaikan secara terbuka? Keraguan itu tetap menggantung, meski pintu perundingan belum sepenuhnya tertutup.
Artikel Terkait
Paket Ekonomi 2025 Cetak 100 Ribu Pekerja Baru, Daya Beli Dijaga Lewat Insentif Pajak
Sri Mulyani Masuk Dewan Direksi Gates Foundation, Bawa Misi Global
Setelah Duka, Joanna Alexandra Sambut Cinta Baru dengan Cincin Pertunangan
Emas Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram, Harga Buyback Ikut Naik