Rasanya, ini bukan sekadar pernyataan biasa. Prabowo seolah ingin menegaskan posisi moralnya. Ia secara terbuka menyatakan siapa yang lebih ia hormati dalam pandangannya.
“Saya lebih hormat sama pemulung, saya lebih hormat dengan tukang becak yang kerja dengan keringat daripada mereka yang pintar-pintar tapi mencuri uang rakyat, saya lebih hormat.”
Lalu ia menambahkan, “Karena Presiden ya saya boleh bicara ya kan.” Sebuah kalimat yang terdengar spontan, sekaligus menegaskan kewenangannya untuk bersuara lantang.
Pesan untuk menghormati orang tua diulanginya lagi. Kondisi ekonomi keluarga, kata dia, bukanlah sebuah kesalahan. “Selalu, selalu, selalu hormati orang tuamu kalau dia belum mampu, bukan salah dia bukan salah orang tuamu," ujarnya.
Namun begitu, Prabowo juga mengakui bahwa negara belum sempurna. Pemerintah, ia akui, belum sepenuhnya mampu memberikan yang terbaik bagi seluruh rakyat. Tapi di situlah letak komitmennya ke depan.
“Kita akan berjuang keras,” janjinya. “Kita berjuang keras supaya semua kekayaan negara akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.”
Acara itu pun ditutup dengan harapan baru. Pesannya jelas: harga diri seseorang tidak ditentukan oleh latar belakang, tetapi oleh kerja keras dan kejujuran.
Artikel Terkait
Tokoh NU Diperiksa KPK Terkait Dugaan Bocornya Kuota Haji Khusus
One Battle After Another dan Adolescence Borong Piala di Golden Globe 2026
AHM Gerakkan Bengkel Darurat dan Bantuan Sembako untuk Korban Bencana di Sumatera
Myanmar Berhadapan dengan Mahkamah Internasional atas Tuduhan Genosida Rohingya