Suasana di ruang rapat Banda Aceh, Sabtu lalu, sempat riuh rendah oleh gelak tawa. Pemicunya? Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian yang agak kelimpungan saat menyebut nama-nama anggota tim pengarah Satgas Pemulihan Bencana. Dia lupa menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
“Saya lupa menyampaikan ini, kuwalat ini kalau enggak,” ujar Tito, setengah bergurau. “Nanti kalau beliau ngambek, kita chat mau rapat sampai malam juga percuma juga kita nanti.”
Pernyataan itu langsung disambut tawa para peserta rapat koordinasi antara DPR dan pemerintah itu.
Menanggapi candaan koleganya, Purbaya dengan santai membalas. Dia bilang, soal namanya terlupa disebut, itu bukan masalah besar. Tapi, ada hal lain yang benar-benar bisa bikin dia kesal.
“Saya ngambek kalau uangnya sudah disediakan pakai utang, enggak dipakai juga,” tegas Purbaya, nada suaranya lebih serius.
“Jadi saya kumpulin uang banyak, gebukin orang pajak, bea cukai, ditumpuk di sana enggak dipakai. Sementara di sini bencananya masih susah masyarakatnya. Itu saja, Pak.”
Ucapan itu sekaligus menjadi sindiran halus sekaligus penekanan. Intinya, persoalan utama di lapangan bukan lagi soal ada atau tidaknya dana. Pemerintah pusat, menurut Purbaya, sudah mengalirkan dana yang cukup signifikan. Untuk Aceh saja, di bulan Januari sudah dikirim dana mencapai Rp1,279 triliun. “Jadi mereka cukup cash untuk geraklah kalau mau,” katanya.
Namun begitu, dia tak menampik bahwa realisasi di lapangan masih tersendat. Kendalanya bukan pada uang tunai, melainkan pada hal-hal teknis seperti administrasi yang berbelit. Itu yang sering memperlambat penyerapan anggaran.
“Jadi sekarang setiap bulan atau setiap awal bulan kita kirim ke daerahnya langsung tanpa permohonan,” jelas Purbaya, mencoba memberi gambaran tentang upaya penyederhanaan. “Kita kirim sesuai dengan data setahun sebelumnya, dari situ kita prediksi. Jadi mereka enggak akan ada kekurangan dana untuk itu.”
Di sisi lain, pesannya kepada pemerintah daerah terdampak bencana cukup jelas: jangan ragu. Anggaran yang sudah ditransfer itu memang untuk dipakai, untuk segera meringankan beban masyarakat. Dalam bencana, waktu adalah segalanya.
“Jadi dana bukan kendala,” tutupnya. “Anda pakai saja.”
Pernyataan itu menggantung di udara. Sebuah ajakan sekaligus tantangan, agar bantuan yang sudah ada tak hanya menjadi angka di laporan, tapi benar-benar menyentuh yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Iran Desak AS Buktikan Komitmen Damai dengan Tindakan, Bukan Sekadar Kata-Kata
Kemenag Pastikan Pendidikan 350 Santri Padepokan Padang Ati Tetap Berjalan Usai Pimpinannya Jadi Tersangka Pencabulan
Kemendagri Desak Kementerian Segera Lengkapi Administrasi Pencairan Anggaran Pemulihan Bencana Sumatera
Guru Ditemukan Tewas di Kamar Kos Semarang, Tak Ada Tanda Kekerasan