Keputusan menghentikan Baleno di 2025 tentu mengakhiri perjalanan panjangnya. Hatchback yang pernah jadi rival sengit Toyota Yaris dan Honda City ini punya sejarah yang dalam di Indonesia. Jejaknya bisa ditarik jauh ke belakang, tepatnya ke era 90-an.
Generasi pertamanya meluncur di sini pada 1995. Saat itu, ia sudah cukup canggih dengan mesin fuel injection 1.600cc dan transmisi manual 5-percepatan. Lima tahun berselang, Baleno mendapat penyegaran lewat ‘Baleno Millenium’ yang desainnya lebih membulat dan modern.
Era 2003-2007 memperkenalkan generasi kedua, yang populer disebut ‘Baleno Next-G’. Mobil ini berbagi platform dengan Suzuki Aerio. Lalu, datanglah generasi ketiga atau ‘Neo Baleno’ yang bentuknya lebih kurva dan basisnya berpindah ke Suzuki SX4 X-Over.
Setelah itu, nama Baleno sempat menghilang dari pasar sejak 2010. Baru pada 2017, ia bangkit kembali dengan wajah yang benar-benar baru. Generasi keempat ini berubah total menjadi city car hatchback yang modern. Penyegaran besar-besaran lagi terjadi di 2022, membuatnya tampil lebih mewah dan premium. Tapi, siapa sangka, itu justru menjadi puncak sekaligus akhir perjalanannya.
Lalu, apa penyebabnya? Jawabannya sederhana: tren pasar yang berubah. Minat konsumen kini lebih mengarah ke compact SUV. Suzuki pun menjawab dengan meluncurkan Fronx di Mei 2025. SUV kompak ini tak hanya menawarkan bentuk yang lebih kekinian, tapi juga teknologi hybrid SHVS yang efisien. Fronx langsung menjadi pionir hybrid di kelasnya, sekaligus penanda peralihan era dari hatchback ke SUV.
Jadi, meski Baleno sudah pensiun, dukungan untuknya masih ada. Dan di sisi lain, Suzuki sudah menyiapkan penerus yang sesuai dengan selera zaman sekarang.
Artikel Terkait
Harapan Global Menipis: Survei Ungkap Optimisme Dunia Menyusut Menjelang 2026
Korban Banjir Bandang Sumatera Tembus 1.182 Jiwa, 145 Masih Hilang
Kebakaran Terra Drone: Polisi Buka Kemungkinan Ada Tersangka Baru
Mawa Tolak Damai, Pilih Jalan Hukum untuk Kasus Insanul dan Inara