Bank Sentral Thailand baru-baru ini angkat bicara. Peringatannya jelas: perekonomian negara itu sedang menghadapi sederet tantangan yang tak bisa dianggap enteng. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan daya saing yang terus berlanjut.
Semua ini terjadi dalam bayang-bayang dua hal: penguatan nilai tukar baht yang cukup signifikan dan dampak dari kebijakan tarif Amerika Serikat yang terus membebani kinerja ekspor. Menurut sejumlah saksi, tekanan yang dirasakan oleh pelaku usaha, terutama yang berukuran kecil, sudah sangat nyata.
Faktanya, ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara ini memang sedang bergulat. Masalahnya bukan cuma satu atau dua, tapi bertumpuk. Di satu sisi, ada baht yang terus menguat. Di sisi lain, utang rumah tangga yang tinggi masih jadi beban. Belum lagi ketegangan di perbatasan dengan Kamboja yang menambah suasana tidak pasti. Dan di atas segalanya, ada nuansa politik yang makin panas jelang pemilu awal Februari mendatang.
“Tahun ini ada banyak ketidakpastian,” ujar Wakil Gubernur Bank of Thailand (BOT), Piti Disyatat, kepada para wartawan.
Ia mengakui bahwa ruang untuk manuver kebijakan memang terbatas. Namun begitu, ia menegaskan bahwa opsi itu tetap ada di meja, siap digunakan jika situasi benar-benar memaksa.
“Jika kami pikir itu perlu, maka akan digunakan,” tegasnya.
Laporan terbaru bank sentral memberi gambaran yang beragam. Pertumbuhan PDB Thailand di paruh kedua tahun lalu tercatat 1,3 persen secara tahunan. Angka ekspor justru lebih menggembirakan, tumbuh 9,1 persen pada periode yang sama.
Artikel Terkait
Banjir dan Longsor Sapu 22 Desa di Halmahera Utara, Akses Bantuan Terkendala
Pasar Mobil Listrik 2026: Insentif Berakhir, Perang Harga China Jadi Penyeimbang
Cici Maulina: Dari Pemain hingga Pelatih, Setia Membela Garuda Pertiwi
Indef Ingatkan Pemerintah: Program Makan Gratis Bisa Jadi Beban Fiskal Jika Tak Ditata