Di sela-sela kegiatan retret di Hambalang, Bogor, Selasa lalu, Mensesneg Prasetyo Hadi memberikan penjelasan soal target pemerintah. Ia menyebut, saat ini sudah ada kurang lebih 19.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berdiri. Nah, angka itu masih akan terus digenjot.
"Target di tahun 2026 harus selesai," ujar Prasetyo kepada para wartawan. "Nanti akan ada sekitar 35.000 SPPG yang akan melayani 82,9 juta penerima manfaat."
Target ambisius itu, jelasnya, untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar menjangkau puluhan juta orang di seluruh pelosok. Distribusi jadi kunci.
Di sisi lain, program lain yang juga digenjot, Cek Kesehatan Gratis (CKG), sudah mencatatkan angka partisipasi yang cukup tinggi. Menurut Prasetyo, pada 2025 lalu, program itu telah digunakan oleh 70 juta warga negara.
"Cek kesehatan gratis sudah mencapai angka 70 juta seluruh warga negara dalam satu tahun di 2025," tuturnya.
Soal MBG sendiri, Presiden Prabowo Subianto dalam kesempatan yang sama mengaku bangga. Meski begitu, ia tak menampik adanya celah. Dalam taklimat awal tahun di retret Kabinet, Prabowo bersikap realistis.
"Apakah ada kekurangan? Ada. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan. Apakah ada penyimpangan? Pasti," kata Prabowo dengan tegas.
Namun begitu, ia menegaskan bahwa kekurangan itu harus ditekan seminimal mungkin. Intinya, program ini harus terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dan secara statistik, menurut penilaiannya, capaian ini hampir sempurna.
"Tapi kita bersyukur bahwa kalau kita pelajari dengan objektif, statistik boleh dikatakan bahwa kita 99,99 persen berhasil," ucap Presiden.
Prabowo lalu membeberkan data terbaru. Per 6 Januari 2026, jumlah penerima manfaat MBG telah melesat mencapai 55 juta jiwa. Angka yang luar biasa, mengingat program ini baru dimulai setahun sebelumnya, tepatnya 6 Januari 2025.
"Kita sudah mencapai hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat," jelasnya. "55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari, dan termasuk ibu-ibu hamil."
Rasa bangganya tak bisa disembunyikan. Ia pun membandingkan dengan pencapaian negara lain, seperti Brasil. Menurut cerita yang ia terima, Brasil butuh waktu lebih dari satu dekade untuk mencapai angka yang lebih kecil.
"Presiden Brasil menyampaikan kepada saya mereka butuh 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat. Kita satu tahun mencapai 55 juta penerima manfaat," kata Prabowo. Sebuah pencapaian yang, baginya, patut disyukuri.
Artikel Terkait
Dokter Gia Pratama: Air Putih Murni Kunci Optimalisasi Kerja Ginjal
Warga Vietnam Dideportasi Usai Praktik Dokter Gigi Ilegal di Ciputat
Shin Tae-yong Makin Santer ke Persija, Dua Pemain Asing Ikut Dikaitkan
Polisi Tangkap Ayah dan Anak yang Diduga Bunuh Pedagang Cilok di Cikupa