"Ini cerminan peralihan sebagian segmen middle class yang sudah biasa pakai mobil konvensional, tapi masih ragu pindah ke full EV," ujarnya.
"Mereka melihat hybrid sebagai solusi transisi yang aman. Risetonya minim, terutama soal keterbatasan infrastruktur pengisian daya di tempat umum," lanjut Yannes.
Di sisi lain, makin banyaknya model dan variasi harga turut mendongkrak animo. Konsumen sekarang tampaknya mulai menginginkan sesuatu yang baru, teknologi yang lebih inovatif dibanding mobil biasa. Intinya, hybrid dinilai efisien dan punya risiko lebih rendah.
"Teknologi bauran bensin-listrik ini memang masuk akal," tambah Yannes.
"Bahan bakarnya jauh lebih irit dari mobil bensin biasa. Dan yang penting, enggak ada rasa khawatir kehabisan daya di jalan karena tetap bisa isi bensin di mana saja."
Artikel Terkait
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026
Rizki Juniansyah Naik Jadi Kapten, 52 Medali SEA Games TNI Dibayar Kenaikan Pangkat
Pohon-Pohon Bercerita: Video Mapping Meriahkan Malam di Sesar Lembang
MNC Life dan BPD DIY Kolaborasi, Asuransi Jiwa Kredit untuk Pinjaman Personal