PM Greenland Tepis Wacana Trump: Kami Bukan Barang Dagangan

- Selasa, 06 Januari 2026 | 03:15 WIB
PM Greenland Tepis Wacana Trump: Kami Bukan Barang Dagangan

KOPENHAGEN Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk merebut Greenland kembali menuai reaksi keras. Kali ini, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, dengan tegas menyatakan wilayah otonomi Denmark itu "tidak untuk dijual". Pernyataannya ini langsung menanggapi komentar Trump yang menyebut pengambilalihan Greenland sebagai "kebutuhan mutlak" bagi keamanan dan ekonomi Amerika.

Namun begitu, pemicu respons langsung Nielsen justru datang dari dunia maya. Sebuah unggahan di media sosial oleh Katie Miller, ajudan senior pemerintahan Trump, menyulut kemarahan. Dalam gambar yang dibagikannya, peta Greenland tertutupi bendera Amerika Serikat, disertai keterangan singkat: "segera".

Bagi Nielsen, postingan itu bukan sekadar lelucon. Ia menyebutnya tidak sopan.

“Gambar yang dibagikan Katie Miller, menunjukkan wilayah kami diselimuti bendera Amerika, tidak mengubah apa pun,” tegas Nielsen lewat pernyataan di Instagram.

“Pesan yang membawa simbolisme kepemilikan bukanlah jalan ke depan,” tambahnya. Menurut Nielsen, unggahan semacam itu mengabaikan status dan hak-hak rakyat Greenland sepenuhnya.

Ia menegaskan, hubungan antarnegara harus dibangun di atas dasar saling menghormati dan kepatuhan pada hukum internasional. Masa depan Greenland, katanya, takkan pernah ditentukan oleh postingan media sosial siapa pun.

Di sisi lain, Nielsen dengan bangga memaparkan identitas wilayahnya. Greenland adalah masyarakat demokratis, punya pemerintahan sendiri, mengadakan pemilu yang bebas, dan didukung lembaga-lembaga yang kuat. Itu semua alasan yang cukup solid untuk menolak apa yang ia sebut sebagai "penghinaan" tersebut.

“Sikap kami jelas berlandaskan hukum internasional dan perjanjian yang diakui secara internasional,” ucapnya lagi.

Sejauh ini, baik pemerintah Denmark maupun otoritas Greenland sendiri telah berulang kali menolak keras segala wacana pelepasan wilayah itu. Denmark masih memegang kedaulatan penuh atas pulau besar yang kaya sumber daya alam ini. Dan jelas, mereka tak berniat melepasnya begitu saja.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar