Baghdad - Suasana di Provinsi Diyala, Irak timur, mendadak mencekam hari Minggu lalu. Serangan udara yang terjadi di sana menewaskan empat anggota Pasukan Mobilisasi Populer (PMF). Tak hanya itu, dua anggota lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, seperti yang diungkapkan oleh sejumlah sumber keamanan dan paramiliter setempat.
Dalam pernyataan resminya, PMF tak ragu menuding siapa dalang di balik serangan ini. Mereka menyebutnya sebagai "pengeboman Israel-Amerika Serikat (AS)" yang secara khusus menyasar markas Brigade ke-41. Lokasinya dekat Kota Miqdadiyah, sekitar 90 kilometer arah timur laut dari pusat pemerintahan di Baghdad.
Seorang sumber keamanan tingkat provinsi, yang enggan disebutkan namanya, memberikan konfirmasi lebih rinci kepada Xinhua. Menurutnya, serangan di daerah pedesaan itu memang menimbulkan korban luka, tepatnya dua orang anggota PMF.
Menanggapi insiden ini, PMF pun menggelar prosesi pemakaman pada Minggu sore di Baghdad. Acara duka itu dihadiri tidak hanya oleh pimpinan senior PMF, tapi juga oleh sejumlah warga yang turut berduka.
Serangan di Diyala ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia terjadi dalam atmosfer ketegangan yang sudah memuncak. Sehari sebelumnya, Sabtu (28/2), serangan gabungan AS dan Israel dilancarkan ke Iran. Aksi itu langsung dibalas oleh Teheran dengan meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta berbagai aset milik AS yang tersebar di kawasan Timur Tengah. Situasinya memang panas, dan serangan di Irak ini seolah menjadi babak lanjutan yang mencemaskan.
Artikel Terkait
Ribuan Driver Gojek Padati Pengadilan Tipikor Dukung Nadiem Makarim yang Dituntut 18 Tahun Penjara
Ilma Sani Fitriana Diperiksa 7 Jam di Polda Metro, Laporkan Hercules atas Dugaan Penyekapan
Kenny Dalglish Umumkan Jalani Perawatan Kanker, Liverpool Beri Dukungan Penuh
KPK Akui Krisis Penyidik Hambat Penanganan Kasus Korupsi, Termasuk Proyek Rp35,7 Miliar di Lamongan