Romeny Buka Suara: Cedera Pahit di Bandung dan Luka Gagal ke Piala Dunia

- Selasa, 30 Desember 2025 | 03:40 WIB
Romeny Buka Suara: Cedera Pahit di Bandung dan Luka Gagal ke Piala Dunia

Ole Romeny akhirnya angkat bicara. Penyerang Timnas Indonesia itu membuka suara tentang cedera parah yang dialaminya saat membela Oxford United di Piala Presiden 2025. Ia mengakui, rasa sakitnya waktu itu luar biasa.

Kejadiannya berlangsung di Bandung, tepatnya di Stadion Si Jalak Harupat, 10 Juli 2025. Oxford United saat itu berhadapan dengan Arema FC dan menang telak 4-0. Tapi bagi Romeny, laga itu meninggalkan kenangan pahit. Pemain 25 tahun itu harus keluar lapangan lebih awal setelah mendapat tekel keras dari Paulinho, pemain Arema FC.

Akibatnya? Cukup serius. Romeny mengalami patah tulang metatarsal, tulang yang terletak di antara pergelangan kaki dan jari-jari kaki. Cedera ini memaksanya untuk menjalani operasi.

"Saya mengalami patah kaki di Indonesia setelah tendangan yang sangat menyakitkan," ujar Romeny.

"Tulang metatarsal patah. Saya pernah merasakannya sebelumnya, tapi untuk kali ini saya harus dioperasi. Operasinya di Amsterdam, dan rehabilitasi juga saya jalani di sana," sambungnya.

Di sisi lain, cedera ini datang di waktu yang kurang tepat. Romeny sebenarnya sedang bersemangat untuk kembali membela Timnas Indonesia di babak-babak krusial kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Ia sempat turun di babak keempat, sayangnya perjalanan Garuda harus terhenti. Kekalahan dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) memupus mimpi mereka ke Piala Dunia.

Kegagalan itu, ditambah dengan cedera yang dialaminya, jelas meninggalkan luka. Romeny mengaku, membicarakan Piala Dunia sekarang justru membuatnya sedih.

"Ketika saya mendengar seseorang berbicara tentang Piala Dunia sekarang, hati saya terasa sakit. Dan itu hanya akan semakin buruk sekarang karena turnamen semakin dekat," tuturnya.

Sebuah tahun 2025 yang penuh lika-liku bagi sang penyerang. Dari patah tulang di Bandung hingga gagalnya ambisi besar timnas di panggung kualifikasi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar