Karena itu, dia lantas menekankan pentingnya terobosan menuju kemandirian, khususnya di sektor pangan dan energi. Itu yang bakal jadi tolok ukur kesuksesan ekonomi ke depan.
Di sisi lain, soal investasi, Esther punya catatan kritis. Paket kebijakan pemerintah saat ini, seperti tax holiday, dinilai belum cukup menarik minat investor besar. Skema semacam itu dianggap belum menyentuh kebutuhan riil di lapangan.
"Investor ini butuh hal yang lain. Misalnya, infrastrukturnya itu harus relatif ada semua; ada gas, ada listrik, ada air bersih, sehingga mereka bisa bangun pabrik di situ. Kalau sektor pariwisata, harus ada connecting flight dan seterusnya," jelas dia.
Infrastruktur bukan satu-satunya masalah. Pasar tenaga kerja kita juga rapuh. Mayoritas masih berkutat di sektor informal. Penyebabnya klasik: ketidakcocokan skill dan tingkat pendidikan yang belum memenuhi standar industri.
Dari kacamata fiskal, Esther memprediksi perlambatan belanja pemerintah masih akan berlanjut hingga tahun 2026. Selain karena faktor eksternal seperti pelemahan global, ada juga faktor internal. Alokasi anggaran yang begitu besar untuk program-program prioritas tertentu dinilai mengorbankan sektor lainnya.
"Ini akan juga mengakibatkan perlambatan di sektor-sektor yang lainnya," pungkasnya.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya: Belum Ada Indikasi Keterlibatan Sipil dalam Kasus Penyiraman Andrie Yunus
Ekonom: Belanja Lain-Lain Rp200 Triliun Jadi Bantalan Fiskal di APBN 2026
Kepala BGN Tegaskan Anggaran 2026 Rp268 Triliun, Bukan Rp335 Triliun
Instagram Uji Coba Fitur Berlangganan untuk Tonton Stories Diam-diam