Banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh Tamiang tak hanya menyisakan duka. Kerusakan parah pada infrastruktur, terutama jembatan, membuat sejumlah wilayah terputus dan terisolasi. Menanggapi situasi darurat ini, Kementerian Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra) pun bergerak cepat.
Mereka menyiapkan pembangunan jembatan perintis untuk mengembalikan konektivitas yang putus. Langkah ini jadi prioritas utama dalam fase tanggap darurat.
Menurut Staf Khusus Menteri, Arif Rachman, dua tim sudah dikirim ke lokasi bencana. Tujuannya jelas: mempercepat pemulihan di titik-titik yang paling krusial. Tim itu terdiri dari 26 personel ahli dan membawa serta logistik bantuan.
Lokasi yang dipilih untuk jembatan perintis itu adalah Desa Lubuk Sidup di Kecamatan Sekerak. Rencananya, jembatan ini akan membentang sekitar 250 meter. Sebuah panjang yang tidak bisa dianggap sepele.
Jembatan ini dirancang untuk bisa dilewati pejalan kaki, sepeda motor, dan gerobak pengangkut barang. Dengan begitu, distribusi bantuan dari Aceh Tamiang menuju Aceh Timur bisa kembali lancar. Sambil menunggu pembangunannya, pengiriman saat ini masih mengandalkan perahu karet.
Di sisi lain, upaya pemulihan tidak hanya soal jembatan. Tim Kemenko Infra juga membawa instalasi pengolahan air bersih portabel, hasil kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan. Sistemnya sederhana: air sungai dipompa, lalu diendapkan selama 20-25 menit.
Artikel Terkait
Pembangunan Rusun di Bantaran Rel Senen Ditargetkan Mulai Mei 2026
Maarten Paes Raih Kiper Terbaik PSSI Awards 2026, Tekankan Pentingnya Kerja Kolektif
Dua Personel UNIFIL Tewas dalam Ledakan di Lebanon Selatan
KPK Tetapkan Dua Pengusaha Haji sebagai Tersangka Baru Kasus Korupsi Kuota