Indonesia dan AS Siapkan Kesepakatan Besar: Mineral Kritis Jadi Taruhan Utama

- Sabtu, 27 Desember 2025 | 12:25 WIB
Indonesia dan AS Siapkan Kesepakatan Besar: Mineral Kritis Jadi Taruhan Utama

Hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat bakal segera berubah. Fokusnya kini bergeser ke akses mineral kritis, komoditas yang jadi rebutan global. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pembahasan soal ini sedang berlangsung intens. Semua itu adalah bagian dari perjanjian dagang komprehensif yang ditargetkan tuntas pada Januari 2026 nanti.

Yang menarik, rencananya kesepakatan ini akan ditandatangani langsung oleh dua presiden: Prabowo Subianto dan Donald Trump. Selain urusan mineral, perjanjian ini juga konon akan memangkas tarif untuk Indonesia, dari 32 persen turun jadi 19 persen. Sebuah langkah yang cukup signifikan.

Menurut Airlangga, persiapan sudah jauh-jauh hari dilakukan. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara disebut telah menjalin komunikasi dengan otoritas ekspor-impor AS.

"Tentu yang critical mineral sudah ada pembicaraan Danantara dengan badan ekspornya di Amerika. Dan juga ada perusahaan Amerika yang sudah berbicara dengan perusahaan critical mineral di Indonesia. Jadi itu akses terhadap critical mineral yang disediakan oleh pemerintah," kata Airlangga, Sabtu (27/12/2025).

Kerja sama ini sebenarnya punya sejarah panjang. Airlangga mengingatkan, lihat saja Freeport McMoRan. Perusahaan AS itu sudah beroperasi di Indonesia sejak 1967, menjadi penyuplai utama tembaga atau copper.

"Nah kita juga sudah memonitor bahwa salah satu critical mineral adalah copper, di mana perusahaan Amerika sudah investasi dari tahun 1967, yaitu Freeport McMorran. Jadi bagi Indonesia, critical mineral dan Amerika itu sesuatu yang sudah dijalankan. Jadi bukan sesuatu yang baru," jelasnya.

Namun begitu, lingkupnya kini diperluas. Pemerintah berencana membuka akses untuk lebih banyak mineral kritis lain yang dibutuhkan industri manufaktur dan pertahanan AS. Nikel, bauksit, dan yang paling strategis: logam tanah jarang atau rare earth.

"Rare earth kita juga masih dalam proses. Itu produk dari Timah," tambah Airlangga singkat.

Pemerintah sepenuhnya sadar posisi strategis mineral-mineral ini. Sifatnya sulit digantikan, baik secara teknis maupun ekonomis, tapi permintaannya global. Ini sesuai dengan aturan yang tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023. Intinya, mineral kritis ini bukan komoditas biasa.

Bagi Airlangga, ketersediaan akses ke mineral-mineral itu ibarat "jantung" bagi industri berat AS yang sedang tumbuh pesat.

"Terhadap semua kan akses itu mereka perlukan karena itu untuk otomotif, untuk pesawat terbang, untuk roket, untuk peralatan pertahanan militer," tegasnya.

Jadi, negosiasi yang sedang berjalan ini lebih dari sekadar transaksi. Ini tentang memenuhi kebutuhan industri masa depan, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia di peta geopolitik sumber daya global. Sebuah babak baru yang penuh tantangan, tapi juga peluang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar