Rig Pertamina di Aceh Tamiang Jadi Stasiun Pengisi Daya bagi Korban Banjir

- Minggu, 21 Desember 2025 | 13:35 WIB
Rig Pertamina di Aceh Tamiang Jadi Stasiun Pengisi Daya bagi Korban Banjir

Gelap malam di Aceh Tamiang kini sedikit terpecah oleh cahaya dari sebuah rig milik Pertamina Drilling. Di Kecamatan Rantau, Rig PDSI19.1 yang seharusnya beroperasi penuh, justru menjadi tumpuan harapan warga untuk sekadar mengisi daya ponsel mereka. Anjungan ini baru mulai berfungsi untuk keperluan kemanusiaan itu sejak 16 Desember lalu. Padahal, sebelumnya rig itu dalam kondisi shutdown total sejak banjir bandang melanda pada 26 November.

Meski digunakan untuk kepentingan umum, proses pengisian daya tetap mengutamakan aspek keselamatan. Semua dilakukan di area yang aman, jauh dari zona kerja rig yang berisiko.

Rig Superintendent Pertamina Drilling, Surya Budiman, mengungkapkan inisiatif ini muncul melihat kepiluan warga. Listrik dan sinyal mati total pasca-bencana, sementara kebutuhan untuk berkomunikasi justru sangat mendesak.

“Sejak awal bencana, listrik dan sinyal mati. Padahal warga sangat membutuhkan ponsel untuk mengabarkan kondisi mereka kepada keluarga. Kami hanya berusaha membantu sebisanya,” ujar Surya, Minggu (21/12/2025).

“Pengisian kami lakukan di area aman, di luar kawasan kerja rig,” lanjutnya.

Dan bantuan sederhana itu langsung disambut. Hampir setiap malam, pemandangan luar biasa terlihat. Lebih dari seratus orang berdatangan, antre dengan sabar. Mereka membawa ponsel, powerbank yang sudah soak, senter, hingga lampu darurat. Bagi mereka, baterai yang penuh bukan cuma urusan teknis. Itu adalah jembatan untuk kembali terhubung, meyakinkan sanak keluarga bahwa mereka masih bertahan.

“HP saya sudah mati dua hari. Kami tidak bisa hubungi saudara sama sekali. Begitu dengar bisa ngecas di sini, rasanya seperti dapat kabar baik.”

Kata-kata itu diucapkan Siti (38), warga Desa Alur Cucur, dengan nada lega yang terdengar jelas. Isolasi akibat putusnya aliran listrik dan jaringan komunikasi memang terasa sangat mencekam, terutama saat malam tiba.

Mereka datang dari enam desa sekitarnya: Alur Batu, Alur Cucur, Alur Manis, Landu, Tempel, dan Lumpuran. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik motor berboncengan. Sebagian bahkan membawa anak-anak, duduk menunggu di pinggir area, ditemani cahaya lampu yang perlahan-lahan kembali menyala.

“Kalau malam gelap sekali. Anak-anak takut. Lampu emergency ini sangat membantu,”

Ucap Rahmad, warga Desa Alur Manis, sambil menggenggam erat lampu daruratnya yang baru terisi penuh. Bantuan yang diberikan Pertamina Drilling ternyata tak cuma stop kontak. Mereka juga menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa makanan siap santap dua kali sehari, sembako, air bersih, dan air minum kemasan bagi warga yang terdampak.

“Dalam kondisi seperti ini, bantuan makanan dan air sangat berarti. Setidaknya kami tidak merasa sendirian,” tutur Yuliana, warga Desa Landu.

Jadi, dalam kesunyian dan kegelapan pasca-banjir bandang, Rig PDSI19.1 bertransformasi. Ia bukan lagi sekadar instalasi industri. Ia menjadi ruang singgah yang hangat, tempat warga mengisi daya perangkat mereka, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Sebuah titik terang, dalam arti yang sesungguhnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar