Menyelam di Obi: Menemukan Cermin Biru yang Tersembunyi di Maluku

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 16:42 WIB
Menyelam di Obi: Menemukan Cermin Biru yang Tersembunyi di Maluku

Pesawat mulai turun. Seperti biasa, saya pilih kursi dekat jendela. Mata masih berat karena kurang tidur, tapi semangat melihat keluar jendela tak pernah pudar. Penerbangan tengah malam dari Jakarta ke Ternate memang melelahkan, tapi pemandangan saat akan mendarat selalu bikin semuanya terbayar.

Di pagi hari, Pulau Ternate tampak cantik sekali. Sinar matahari menyinari, sementara awan-awan lembut menyelimuti puncaknya. Pemandangan khas Maluku yang selalu memukau.

Ini bukan pertama kalinya kaki saya menapak di Bandara Sultan Babullah. Tapi perjalanan kali ini punya tujuan baru: Pulau Obi. Saya sudah sering dengar namanya, biasanya dikaitkan dengan aktivitas pertambangan. Tapi dari mulut ke mulut, banyak juga yang bilang kalau laut di sana sangat mempesona. Sebagai pencinta laut Indonesia Timur, rasa penasaran saya sudah menggebu.

Sebelumnya, saya sudah pernah menyelam di sekitar Halmahera Barat hingga Bacan. Tapi Obi, yang letaknya lebih ke selatan, masih jadi petualangan yang tertunda. Nah, sekarang kesempatan itu akhirnya datang.

Untuk mencapai Obi, rutenya tidak langsung. Dari Ternate, kami harus terbang lagi ke Labuha. Karena ada jeda beberapa jam sebelum penerbangan, kami memutuskan untuk menyelam singkat. Tujuannya: Jikomalamo.

Tempat ini cuma 30 menit dari bandara, berseberangan dengan Pulau Hiri. Meski di atas daratan ramai dengan warung-warung, air di bawahnya sungguh jernih. Ikan-ikan berenang dengan riang, seolah menyambut setiap pengunjung yang menceburkan diri. Siapa pun yang ke sini, pasti langsung jatuh hati.

Menjelang sore, kami terbang ke Labuha. Perjalanan dilanjutkan dengan kapal menuju Obi. Saya tiba di sana saat malam sudah gelap, jadi sama sekali tidak bisa menebak seperti apa wajah pulau ini.

Beningnya Laut Obi

Baru keesokan paginya, semua terungkap. Langit biru tanpa awan. Laut tenang, memantulkan warna biru kehijauan yang lembut bahkan dari tepian dermaga. Sebagai orang Jakarta, pemandangan seperti ini terasa sangat mahal harganya.

Spot penyelaman pertama kami adalah Pulau Telor. Biasanya, saya langsung fokus menyiapkan peralatan selam. Tapi hari itu lain. Pemandangan dari darat begitu memikat, sampai-sampai saya minta waktu ekstra untuk menerbangkan drone dulu. Karakter laut di sini tenang. Dasar lautnya berupa pasir putih yang rata, dikelilingi oleh terumbu karang yang padat. Saya dengan mudah menemukan gugusan karang bercabang yang tumbuh subur.

Titik selanjutnya bernama Pasturi. Spot ini unik banget. Dari udara, bentuknya mirip 'Blue Hole' lingkaran biru tua yang kontras dengan perairan dangkal di sekelilingnya. Sebuah gosong pasir mengitari bagiannya. Pemandangan yang langsung menarik perhatian.

Tapi kejutan sesungguhnya ada di bawah air. Kejernihannya benar-benar luar biasa! Sampai-sampai bayangan karang di dasar laut terpantul sempurna di permukaan yang bagai kaca. Saya terpana. Rasanya ingin menyelam terus, tak ingin naik.

Di spot ini juga, kami ikut menanam karang di "reef cubes" struktur kotak yang diletakkan di dasar laut sebagai media tumbuh. Kami dibantu oleh Tim Marine dari Harita. Kegiatan kecil yang semoga memberi dampak besar.

Pulau Indah di Timur dan Desa Nelayan

Usai menyelam, perjalanan belum berakhir. Kami singgah di beberapa pulau lain seperti Mala-Mala dan Gomumu. Menghabiskan sore di Gomumu terasa spesial. Hanya ada kelompok kami di sana. Laut, pasir, dan langit biru dengan matahari sore yang mulai miring. Rasanya seperti memiliki pulau pribadi sejenak.

Keesokan harinya, kami mengunjungi Desa Soligi. Kebetulan sekali, para nelayan baru saja pulang melaut. Ikan-ikan besar, termasuk kakap merah, dibawa turun dari kapal. Sebagian dibersihkan dan ditimbang untuk dijual, sebagian lagi disisihkan untuk konsumsi warga. Kami pun diajak berbagi, makan ikan segar bersama-sama.

Yang menarik perhatian saya adalah cara mereka 'memarkir' kapal. Bukan di dermaga biasa, melainkan digantungkan pada kayu-kayu penyangga menggunakan sistem katrol.

Rupanya, cara tradisional ini sangat fungsional. Ini untuk mengamankan kapal dari hempasan ombak besar di musim tertentu. Sederhana, tapi cerdas.

Perjalanan ke Obi ini sekali lagi mengingatkan saya pada betapa kayanya alam Indonesia. Saya bukan cuma menikmati keindahannya, tapi juga belajar dan bertemu dengan banyak orang baru.

Saya berharap, keindahan dan kedamaian perairan Obi ini tetap lestari. Puluhan tahun dari sekarang, siapa pun yang membaca tulisan ini, semoga masih bisa merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan hari ini.

Catatan perjalanan dari Marischka Prudence, mantan jurnalis, blogger, content creator, dan penyelam seumur hidup.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar