Nah, untuk benar-benar paham dengan kekuatan rival ini, Farley mengambil langkah yang cukup radikal. Usai kunjungannya ke China tahun lalu, ia meminta timnya memilih lima mobil listrik terbaik dari sana untuk dikirim ke AS. Mobil-mobil itu lalu jadi kendaraan harian bagi para petinggi Ford.
Tujuannya jelas: membuka mata internal perusahaan terhadap realitas persaingan yang sekarang terjadi. Farley menegaskan, Ford tak boleh lagi mengulangi kesalahan lama dengan meremehkan industri otomotif Asia. Menurutnya, sikap menghormati kompetitor harus dimulai dari atas, agar jadi budaya di seluruh lini perusahaan.
Pengakuan soal ketertinggalan ini makin nyata ketika Ford merekrut Doug Field, mantan insinyur utama Tesla Model 3 yang juga punya pengalaman di proyek mobil Apple. Evaluasi internal pun membuka mata. Di area krusial seperti teknologi elektrifikasi dan digitalisasi pabrik, mereka tertinggal hingga seperempat abad dari pemain terdepan.
Ini jelas jadi alarm keras. Tantangannya besar. Di tengah gempuran merek China yang menggabungkan teknologi canggih, efisiensi produksi, dan harga bersaing, satu-satunya jalan bagi Ford adalah transformasi menyeluruh. Agar tetap relevan di era listrik ini.
Artikel Terkait
Jelajah Hainan: Liburan Tanpa Visa Mulai Rp 4,1 Juta
Garuda Futsal Siap Hadang Jepang di Indonesia Arena
Roy Suryo Sindir Jokowi: Ke Makassar Bisa, ke Sidang di Solo Tak Berani?
Penyidik Cilandak Kena Sanksi, BAP Diduga Diubah dari Penganiayaan ke Narkoba