Menanggapi ini, bantuan darurat sudah mulai disalurkan. Mulai dari tenda kelas darurat, paket sekolah, sepatu, sampai buku teks. Bantuan uang tunai juga digelontorkan, totalnya Rp 21,1 miliar dari anggaran yang ada sekarang.
Di sisi lain, proses belajar mengajar pelan-pelan mulai bergerak lagi. Di Aceh, 15 dari 18 daerah terdampak sudah berjalan sebagian. Tiga daerah bahkan sudah full. Sumatra Barat juga hampir seluruhnya beraktivitas, kecuali 93 sekolah di Agam yang masih diliburkan sampai 22 Desember nanti. Sementara di Sumut, 13 daerah sudah kembali normal, lima daerah lainnya masih bertahap.
Lalu, bagaimana dengan kurikulumnya? Mu’ti punya sejumlah skenario yang disusun berdasarkan fase bencana.
Untuk fase tanggap darurat 0-3 bulan pertama, kurikulum akan dipangkas habis. Hanya kompetensi esensial yang diajarkan: literasi dasar, numerasi, keselamatan diri, plus dukungan psikososial. Metode belajarnya adaptif, asesmennya sangat sederhana. Fokusnya cuma satu: kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid.
“Tidak ada asesmen formatif atau sumatif yang kompleks,” tegas Mu’ti.
Memasuki fase pemulihan dini 3-12 bulan, kurikulum mulai beradaptasi berbasis krisis. Pembelajaran jadi lebih fleksibel, sistem penilaiannya transisi. Baru pada pemulihan lanjutan 1-3 tahun ke depan, pendidikan kebencanaan akan diintegrasikan secara permanen. Kualitas pembelajaran dikuatkan kembali dengan basis ketahanan.
Langkah-langkah itu setidaknya jadi peta jalan. Upaya untuk membangun kembali semangat belajar di tengah puing-puing bencana.
Artikel Terkait
Ucapan Idul Fitri via WhatsApp Jadi Jembatan Silaturahmi di Era Digital
Presiden Prabowo Salat Id di Aceh, Istana Buka Halalbihalal untuk 5.000 Warga
Presiden Prabowo Salat Id di Aceh, Istana Gelar Open House Lebaran
Presiden Prabowo Buka Istana Negara untuk Halalbihalal Umum, Targetkan 5.000 Tamu